Bukit Senja

Picture


Si…. Panggilanku. Lahir dari kisah asmara ayah dan bunda. Aku lelaki yang berhasil hidup dua puluh tahun dan tinggal di kaki pegunungan, pegunungan sampah tentunya. Setiap hari, berkilo-kilo meter jalan aku tempuh, berkilo-kilo meter itu juga botol plastik yang bermacam merk dan sudah kosong aku kumpulkan, tak lupa juga dengan kardus-kardusnya. Kadang dengan teman baikku secara berkelompok atau sendiri lebih sering, memungutnya satu-persatu.

Rumahku cukup besar bagiku yang seorang. Ukurannya tiga kali empat meter dengan sebuah ranjang yang aku pungut di pegunungan sampahku. Aku tidak mengerti, kenapa ada orang baik yang membuang ranjang yang bila aku paku di beberapa sisinya, kembali utuh dan bisa menjadi alas tempat tidurku. Setiap pukul tiga sore aku memulai pekerjaan, dinas berkeliling untuk mensensus keranjang-keranjang tong sampah warga. Selain itu, aku sudah punya langganan yang sampah-sampahnya disetorkannya padaku.

Jangan salah. Setiap pagi aku berkuliah, tiga kilo meter jaraknya. Naik sepeda yang besi-besinya aku pungut dari pegunungan sampahku. Pegunungan sampah yang membawa rezeki bagiku. Aku bebas, memilih mana yang bisa aku gunakan. Kemudian aku cuci, dilap sedikit-sedikit, kuperbaiki dan kufungsikan lagi berbagai barang itu. Sudah banyak lho, barang yang berhasil aku pungut dan jadi lebih berguna. Selain ranjang dan sepeda, ada kardus yang bisa aku jadikan tembok. Bahkan, setiap dua minggu sekali, aku bisa mengubahnya semauku. Lalu, ada kayu-kayu yang menjadi pondasi dan penguat rumahku. Rumahku paling unik, karena sifatnya yang portable. Aku bisa membangun rumah di mana pun sesukaku. enam jam adalah waktu paling lama dalam membuat rumah portableku.

Kalau aku ingin bersama senja sebelum malam, aku letakkan saja rumahku di Timur pegunungan sampah. Kalau aku ingin melihat sunrise, kata salah-satu teman bule di kampus, aku letakkan rumahku di sebelah Barat pegunungan sampah. Bukan main suhu di tempat tinggalku ini, ia bisa menjadi sangat panas ketika siang hari dan begitu dingin ketika malam.

Kalau di musim kemarau, aku biasa membuka atap rumah. Lalu aku tidur di kamar beribu bintang, bukan hanya bintang lima. Selain itu, setiap malam aku tidak hanya tidur di kamar berbintang, aku juga tidur bersama bulannya. Aku jadi orang paling percaya diri, sebab aku bisa mengalahkan si Stefani, si cantik jelita itu, perempuan yang ayahnya bukan hanya kaya, tetapi begitu kaya kata orang-orang. Stefani biasa tidur di apartemen mewah, tapi aku bisa tidur di kamar berbintang sekaligus dengan bulannya setiap malam.

“”

Bersama senjaku kali ini, aku ingat lagi padanya. Apa kalian tahu, aku pernah menyatakan cinta pada seorang perempuan. Bukan main juga rasa malu saat itu. Aku menyatakan cinta pada seorang perempuan cantik yang sebenar-benarnya. Aku rasa, aku sama tampannya dengan artis-artis di televisi waktu itu, dan aku beranikan saja untuk mengungkapkan. Setelah aku nyatakan cinta padanya, lalu kuberikan sesuatu yang mungkin tak ia duga sebelumnya. Pada seorang perempuan bernama Aqila.

“Aqila, akan aku tunjukkan sesuatu untukmu. Sebuah hadiah yang kuharap membuatmu senang.”

 “Apa itu, Si?”

Lalu, lukisan senja yang aku buat tiga bulan lamanya, kuberikan padanya. Gila, wajahnya menampakkan keanggunan, saat ia melihatnya. Ada pegunungan dan burung warna-warni yang ternyata membuatnya takjub. Sesekali aku begitu suka melukis, tepatnya tiga bulan sekali aku membeli kanvas, bingkai, dan cat-catnya. Hasil dari kiloan kardus dan botol-botol plastik. Selain itu, aku bersyukur, ada keringanan dalam menjalani masa kuliah. Kuliahku gratis di satu sisi, tapi di sisi lainnya aku tetap membutuhkan uang untuk beberapa hal, seperti fotocopy, makan, sesekali mentraktir dan sebagainya.

“”

“Si, boleh tunjukkan di mana letak senja ini?” Ucapnya.

“Saat ini ia ada dalam dirimu, senja beralih pada keikhlasan yang mampu membuat kita bisa bersama.”

Namun, pada suatu hari, aku tunjukkan secara langsung di mana letak lukisan senjaku. Ia keheranan bukan main. Setelah kutunjukkan rumah yang satu petak itu. Ia lebih keheranan lagi, di dalamnya ada ratusan buku yang sengaja aku beli sebulan sekali, hasil dari kiloan kardus dan botol-botol plastik yang aku cari setiap hari.

“Apa senja dilukisan ini, selalu kamu lihat di setiap sore, Si?”

“Tentu saja.”

“Apakah pegunungan ini adalah sampah-sampah yang menghidupimu selama ini, Si?”

“Tentu saja.”

“Apakah burung-burung di lukisan ini adalah puluhan merpati yang kamu pelihara di samping rumah kecilmu ini, Si?”

“Tentu saja.”

“Terimakasih atas lukisan senja manis yang kau buat, Si.”

“Tentu saja, itu sepenuhnya untukmu Aqila.”

“”

Beberapa waktu kemudian. Aku harus tahu bahwa aku akan kehilangan Aqila yang menjelma berbagai karyaku. Ternyata, ayah dan ibunya mengajak Aqila pergi ke tempat yang cukup jauh. Ia dan sekeluarga harus pindah ke suatu negeri di mana ada salju, musim semi, dan sakuranya.

Suatu hari sebelum kepergiannya hadir. Aku memboncenginya mengitari kota, pegunungan sampahku, dan membeli es krim serta cokelat kesukaannya. Kemudian, kami berhenti di sebuah pantai yang begitu jauh dari tempat kami berasal.

Aku pun bertanya, “Apa kamu meninggalkanku, karena keadaanku?”

“Tidak kok Si, aku bersamamu karena aku mau denganmu.”

“Lalu kenapa kamu harus pergi besok? Tempatnya cukup jauh dari peta yang aku miliki di tembok rumahku. Setelah kuhitung sesuai skala petanya, ada angka cukup tinggi yang menunjukkan jarak sebegitu jauhnya. Apa kamu tega meninggalkanku? Aku sudah tidak punya ayah dan bunda. Lalu kenapa kamu akan pergi juga besok?”

“Kita akan sama-sama menemukan senja kok, Si. Kamu harus berjanji. Kamu harus melihat senja setiap sore, dan aku pun akan begitu. Maka aku akan selalu ada di sampingmu, Si.”

"Apa di sana ada senja?"

"Bumi ini bulat, Si. Aku yakin ada."

"Apa mungkin rasanya sama, saat kita melihat senja itu?"

"Aku yakin begitu."

“Aqila, bumi ini tersusun dari lintang dan bujur. Setiap satuannya, membuat kita punya waktu yang berbeda karena letak.”

“Lalu kenapa, Si? Aku akan tetap merasakan hal yang sama. Sebuah waktu yang membuat kita akan tetap bersama. Segera, aku akan kembali menemuimu, Si. Ketika aku berpijak lagi di tanah yang sama denganmu ini. Karena ada setia yang kita bela dengan setulus-tulusnya kan?”

“”

Aqila melesat jauh. Di padang rumput dekat bandara bersama sepedaku, aku lihat pesawat yang semakin tinggi dan hilang dari kejapan mata ketika Aqila ada di dalamnya. Lalu bergumam, “Aqila, jangan lupakan senja yang sudah kita ciptakan bersama selama ini, dan panggil aku tetap sebagai Si… Untukmu.”

Aku masih memiliki Aqila. Hanya saja, aku tak tahu bagaimana kabarnya. Sesekali, aku menggunakan sambungan internet yang ada di kampus. Mencoba mencarinya. Tak pernah kutemukan akun yang benar-benar dirinya. Semakin aku mencari, semakin aku kehilangan dirinya. Satu hal yang aku tahu, ia memang orang yang begitu menjaga dirinya. Privasi bukan main dalam komunikasi, tapi ia tetap menjadi kekasihku. Ke manapun ia pergi. Aku harap bahwa ia tetap menemukan senja yang manis. Itulah apa yang kita percaya dalam setia ini.

“”

Aku lihat kembali senja di balik pegunungan sampah yang menghidupiku, bersama merpati-merpati yang terbang kian kemari. Jagung-jagung kutabur di hadapanku, merpati menari terus menari, memakan jagung-jagung, terkadang mereka terlihat berkelahi, ketika yang dipatuk adalah kepala saudaranya sendiri. Aku tak tahu, berapa jumlah merpati yang sudah kumiliki sejak beberapa tahun lalu.

Selanjutnya, kubaca lagi buku-buku yang belum selesai kubaca. Saat ini, dinasku naik pangkat. Aku menjadi pengepul, tak sama seperti dulu. Aku mampu membayari para pekerja, sebagaimana dulu aku pernah menjadi mereka. Ketika susah senang mencari kian kemari, plastik sampai kardus-kardusnya.

Aku tetap bersama senja, kesendirian, dan Aqila yang sama-sama menikmati senja di lain letak. Walau tanpa ayah dan bunda, aku berhasil hidup sampai saat ini. Besok aku wisuda. Bersama senja, aku lukis ayah dan bunda dengan merpati-merpatinya. Di surga, mereka yang kuhormati berada dan mungkin melihatku. Satu hal yang aku temukan, aku selalu berhasil melukiskan mereka dengan tersenyum dan membuatku juga tersenyum.

Sudah berbulan-bulan aku tak pernah kembali pada kebiasaanku dulu yang sering berpindah-pindah letak rumah. Sekarang, rumahku selalu tepat menghadap senja. Buku yang kumiliki sudah hampir seribu jumlahnya di dalam kamar, aku tak pernah sadar bagaimana bisa mengumpulkannya. Sembari menghadap senja, melihat ayah dan bunda di lain dimensi dengan senyuman mereka.

Bersama senja yang semakin hadir, di senja itu jualah, rinduku hadir pada Aqila. Kemudian, tak kusangka rindu mampu menarik senyumanku yang begitu menggelitik padanya. Aku harap, rambutnya masih sama pendeknya, seperti saat ia meninggalkanku waktu itu.

Telepon genggamku berbunyi, ada satu pesan masuk.


""

From: +810337738
26-04-2019, 04.34 PM

Yth. Sdr. Siha Kim Swastamita di tempat.


Saya mengingatkan pada undangan untuk saudara Siha Kim Swastamita untuk menjadi keynote speaker mengenai literasi di kampus utama Universitas di Indonesia untuk Minggu depan.


Semoga, saudara bersedia menceritakan senja, bukit sampai pegunungan, buku-buku, merpati dan lukisan-lukisan yang selalu anda ciptakan.


Tertanda:

Ketua Pegiat Literasi Indonesia-Jepang
Aqila Sekar Rembulan
Yang tak pernah kehilangan senjamu di negeri Sakura.

Semarang, 2019

Kampung Kelaparan


Televisi, radio, sampai internet masih asyik bertengkar. Suara protes di lapangan, dianggap panggung lawakan dan nilai percuma. Orang-orang mati makin tak terhitung jumlahnya, seusai berontak pada segala pengkhianatan kuasa. Adapun, keluarga yang hidup dengan kendi air sungai keruh, makan satu telor dadar pun dipecah per jumlah anggota keluarga, perlahan-lahan pergi ke surga dengan tanpa satupun berita di media.

Jauh dari pusat kota pertengkaran, ada sebuah kampung dengan hutan pinus yang mengelilinginya. Ada juga perbukitan di kampung ini, dipakai penduduknya untuk mencari sisa rumput, guna mengenyangkan para kambing di rumah. Para ayah asal kampung, sering juga berkumpul di puncak perbukitan, lalu menjamu senja yang hampir keemasan. Sekadar untuk melihat pabrik-pabrik berdiri, tepat di cakrawala mata mereka. Lalu bergosip ria tentang dunia luar kampung, sembari menikmati kopi yang dibawakan istri masing-masing setelah menggembala.

Seusai Ashar, anak-anak di perkampungan punya kebiasaan, bermain sepak bola. Di sebuah lapangan yang dibuatnya dari bekas tanah pesawahan tanpa masa panen. Sakit bukan main bila seorang anak terjatuh di lapangan. Sebab kerak keras tajam lapangan, amatlah pandai membuat luka di kulitnya.

Senja pun tiba, tanda bola perlu selesai dipermainkan. Anak-anak berjalan ke tepian lapangan, lengkap dengan bunyi suara perut yang saling terdengar. Suara yang sudah dimaklumi lima tahun ini, akibat panen yang tak kunjung tiba. Sedangkan, bahan makanan mahal harganya. Begitupun pasar jauh jaraknya, lengkap dengan ongkos bahan bakar tak karuan makin meninggi. Itulah ucapan para orang tua di kampungku.

"Udah makan, Man?" Tanyaku pada Herman, sahabatku.

"Bukannya anak-anak di kampung ini semuanya kelaparan?"

“Betul juga, tapi—”

"Gak perlu diulang pertanyaanmu tiap hari. Jawabannya sama saja tho?"

"Sampai kapan?"

"Sampai kau jadi Presiden."

"Kenapa harus jadi presiden, Man?”

"Tanya sama ayah ibumu, aslinya aku juga gak tahu tugas presiden itu apa. Ayahku yang bilang, kalau orang kampung kita amatlah perlu jadi presiden, biar gak kelaparan. Kau pantas jadi presiden, sebab kau yang rangking satu melulu di kelas. Nah, kau perlu buat kami tak kelaparan sebagai anak paling pintar di kampung ini."

"Aku mau jadi presiden." Kataku lugas.

"Tanyakan dulu pada ayah ibumu, aku dan kau saja tak tahu apa tugas presiden itu"

"Nanti kutanyakan sama ayah."

"Semoga ayahmu mau jawab, soalnya pas ayah kutanyakan hal yang sama. Ayah sibuk ke sawah yang tak pernah panen ini—”

"Dan sibuk motong rumput, buat kambing-kambing kurus di kampung ini juga kan?"

"Hahaha.",  Kami pun serentak tertawa pada nasib sendiri, di kampungku yang makin hari termaklumi.

“Oiya, Gun. Masihkah kau punya pensil?” Tanya Herman.

“Masih, bu guru kan kasih masing-masing dua pensil, untuk seluruh anak di kampung ini.”

“Pensilku sudah jadi kurcaci dua-duanya. Boleh kupinjam satu?”

“Boros sekali, kau pakai pensil itu.”

“Aku sibuk menggambar, Gun. Kau kan sibuk baca, nulis pun kau yang penting-penting saja, kan.”

“Ya sudah, besok aku bawa kalau ke lapangan.”

“Nah, sip.”

Herman merangkulku, membawa bola yang dipakai anak-anak sekampung bermain. Sebab, hari ini, jadwalnya untuk menyimpan bola di rumah. Esoknya, bola itu bergantian untuk disimpan oleh teman yang lain. Kami pun berpisah di persimpangan, menuju rumah masing-masing.

“”

Seusai senja, ayah tiba dengan kring-kring sepedanya. Suara lengkingan ayah pun selalu kudengar, saat ia menyapa tetangga sebelum memasuki rumah. Kali ini, aku sudah duduk di pinggiran tikar, tempat ibu menyiapkan makanan dan minuman.

"Gun, udah makan?" Ayah datang berlari lalu menggelitik pinggangku. Aku kegelian bukan main, tapi aku tetap tertawa.

"Tak usah digelitik terus anak sulung kita itu. Nanti tak suka makan dia. Sudah kurus, makan seadanya, kau gelitik juga pingganya, makin kuruslah dia.” Ibu menimpali perbincangan.

"Tenang saja, Bu. Guntur kan anak pintar, tak mempan kalau aku gelitik pinggangya." Ucap Ayah yang selalu memujiku di setiap waktu.

"Makan nasi telor dipecah bertiga. Apa sehat isi akalnya, Yah?" Jawab Ibu.

"Ayo Gun, katakan pada Ibumu yang kemarin kita omongin."

Aku pun berdiri, mengangkat tangan kanan dengan kepalan jemari paling meyakinkan, "Saya, Guntur Bumi Pratama, putera ayah Hasan Bisri dan ibu Sekar Puteri Pratiwi. Dengan ini menyatakan dengan setegas-tegasnya. Bahwa saya, akan berbuat kebaikan atas ridho-Nya, berbudi pekerti pada orang tua, bersungguh-sungguh dalam belajar, menjadikan negeri ini dipandang dunia dengan segala keberhasilannya, dan meyakinkan ibu untuk merestuiku dalam mewujudkan cita-citaku, sebagaimana yang sudah saya sebutkan barusan. Selesai."

Ibu memandangiku, begitupun ayah. Langkah berat kaki ibu mendekatiku. Jantungku berdebaran amat kencang. Ia pegang dua pundakku.  Sekejap, tubuhku hangat dalam pelukannya lalu berbisik, "Ibu bangga padamu, Gun. Kau harus terus belajar dan belajar, sampai negeri Cina." Kulihat ayah di sebelah kiriku, mengacungkan jempol dan tersenyum.

"Yaudah, mari kita nikmati nasi telor buatan ibu malam ini." Ucap ibu seusai menyapu air mata yang tak sadar keluar.

"Lahhh, telor lagi." Ucapku.

Kami bertiga serentak tertawa. Ibu menyajikan nasi lebih banyak di piringku. Berasnya dibawakan ayah dengan sepeda, dari balik hutan pinus dan perbukitan kampungku. Ayah tak mau kalah banyak. Hanya ibu yang selalu makan lebih sedikit. Sebab ibu terbiasa mual, bila makan terlalu banyak.

Di tengah-tengah hidangan malam. Tak sadar aku berucap, "aku mau jadi presiden, Yah, Bu."

Ayah dan Ibu terhenti seketika, saling bertatapan. Melihat keduanya keheranan, aku pun ketakutan. Sebab, aku sendiri tak tahu apa arti presiden yang sebenarnya. Hal yang kuketahui tentang presiden. Ialah orang yang bisa membuat seluruh penduduk kampungku tak lagi kelaparan, seperti kata Herman. Aku rasa, presiden adalah pilihan yang tepat untuk sebuah cita-cita. Sebab, aku tak pernah bisa menjawab cita-cita apa yang aku inginkan, sebagaimana yang bu guru tanyakan di kelas. Sekaligus, aku hanya ingin mendengar suara peluit di waktu senja. Tanda sepak bola perlu usai dipermainkan, tanpa suara perut teman-temanku.

“”

Lukisan dengan model pelukis Dullah yang menggenggam bendera merah putih, baru saja terlekat di dinding kamar, dibantu oleh anak-anak muda berbadan kekar. Lukisannya jauh lebih besar, dibuat oleh Herman, sahabatku di kampung, saat kini ia telah menetap di Valencia, Spanyol. Sebelum keberangkatannya ke Valencia, aku memintanya untuk melukis ulang poster Affandi, lengkap dengan kalimat tegas “Boeng, Ajo Boeng” buatan Chairil, penyair kesukaanku.

Herman sahabatku, sudah dikenal sebagai pelukis yang handal. Ia pun berangkat ke Valencia sebagai wujud harapan, mengenalkan lukisannya pada dunia. Sesekali kami saling bersapa, lewat pesan vidio yang menampakkan wajah masing-masing. Hanya saja, kami tetaplah jauh dalam jarak, sampai kami temukan cara agar lebih dekat. Dengan poster buatan Affandi, pelukis kesukaannya, dan kalimat Chairil di dalamnya, penyair kesukaanku. Adapun, buku puisi-puisi yang sempat kuterbitkan disimpannya, agar jauh jarak tetap melekatkan kami sebagai sahabat di kamar masing-masing.

Ayah ibu telah kenyang hidup penderitaan di kampung kelaparan. Ia menitipkanku pesan untuk selalu belajar, bahkan sampai negeri Cina. Namun, segala nasib di kampung, tetap membawanya pergi ke surga. Aku dan Herman pun menggembala ke luar kampung, tanpa membawa seekor kambing. Dititipkan oleh Kepala Desa Kampung Kelaparan, pada guru honorer yang rela keluar-masuk kampung setiap dua minggu sekali, agar kami dapat merasakan kenyangnya belajar.

Di luar kampung, kami pun bekerja kuli panggul untuk toko-toko, buruh tani, dan sebagainya guna mencukupi penghidupan. Hanya saja, kuingkari pesan ayah ibu untuk pergi belajar ke Cina. Sebab, beasiswa seusai SMA mengirimku belajar ke London untuk belajar Pembangunan Negara dan Herman ke Jerman untuk seni lukisnya. Kami pun mulai berpisah dalam jarak sebagai sepasang sahabat, bahkan sampai menemukan pasangan hidup masing-masing.

Air mata tak kusadari mengalir. Lalu, kurasakan hangat tubuh di punggungku dalam sebuah pelukan. Sepasang tangannya mengikat perutku, wajahnya pun muncul di atas pundak kanan, “Apa kau sedang mengingat ayah, ibu, dan sahabatmu itu, Mas?”

“Tak ada ingatan lain, bila kutatap lukisan ini, Adelia.”

“Bersabar, Mas. Ridho-Nya yang sering kau katakan dalam riwayatmu di kampung, sudah mengantarkanmu sampai tahap ini.”

“Aku tak tahu kenapa ini harus terjadi—”

“Dan bila Ridho-Nya terjadi, maka terjadilah kau di dalam riwayat barumu ini.”

“Terimakasih, sayang. Sudah menanamkanku benih kepercayaan sebagai pendamping hidupmu. Sampai kau rela tinggalkan negeri Yordania, tempatmu belajar yang sedang kau tempuh kala itu.”

“Semua ada pilihan, Mas. Aku memilihmu, sebab kau punya riwayat yang baik, untuk diceritakan pada berbagai negara dan anak-cucu kelak. Riwayat yang sudah meyakinkan, bahwa kau punya tanggungjawab—”

“Belum selesai tanggungjawabku padamu, sayang. Kenapa pun Ridho-Nya mengantarkanku pada tanggungjawab lain.”

Adelia mengencangkan pelukannya. Kurekatkan jemariku dalam jemarinya, hangatnya menenteramkan hati yang gundah gulana di dalam kamar paling terjaga. Dengan jendela anti peluru, ruangan paling sejuk, dan atap-meninggi sebagaimana istana.

Ketukan tiba-tiba muncul dari arah luar kamar. Adelia membukanya, sang jenderal di muka kamar mengabarkan bahwa semua telah siap. Ditutupnya kembali pintu itu, ia kencangkan dasi yang melekat di leherku. Lalu, dering ponsel dengan tampilan amat lebar berbunyi, aku buka pesan singkat yang tak mampu menahan air mata.

Herman mengirimkan pesan singkatnya, nun jauh dari Valencia:

“Sahabatku, Guntur Bumi Pratama, mohonkanlah maaf atas tak kedatanganku dalam satu riwayat baru yang hendak kau emban beberapa jam ke depan. Kini, kau tak hanya punya tanggungjawab untuk menghilangkan Kampung Kelaparan kita itu, tempat kita dilahirkan, tumbuh bersama, bermain sepak bola sebelum senja dan pulang pada ayah ibu masing-masing. Sebab, kau bertanggungjawab untuk mengenyangkan seluruh penduduk kampung di negeri kita berasal. Agar anak-anak di seluruh negeri kita, pandai dalam sepakbola tanpa suara perut yang nakal, pandai juga dalam belajar, dan agar ayah-ibu di negeri kita punya pasar yang dekat untuk mengantarkan hasil panennya. Selamat untuk pelantikanmu hari ini, Pak Presiden Guntur. Sahabatmu, selalu ada di dekatmu, di lukisan yang selalu kau lihat seksama setiap harinya.”

Air mata berkelok turun melalui pipi, dan jatuh ke lantai paling mengkilap. Kulihat wajah Adelia yang tersenyum amat jelita. Kupeluk tubuhnya seketika, lengkap dengan ciuman di tepat kening dan jatuh ke bibirnya.

Adelia menggandeng tanganku, dibukakannya pintu kamar, aku pun berjalan ke luar rumah megah ini, menuju pelantikan yang diridhoi-Nya dan lengkap atas restu ayah-ibu di surga, guna menghilangkan seluruh Kampung Kelaparan di negeriku.

Semarang, 2020.

Guru Muda

Gambar

Rumah selalu menyimpan kerinduan. Ada malam bersama kunang-kunang atau serumpun bambu yang menjulang. Nuansanya menghadirkan kenangan, agar segera kembali kurasakan suasananya. Sudah terlalu lama, aku hidup di kota, dengan gemerlapnya cahaya buatan. Saat terkadang berubah menjadi kebosanan, lalu menuntunku untuk pulang pada cahaya alam di kampung halaman. Asri bersama semestanya yang telah membuatku terlahir dan tumbuh.

Gapura selamat datang sudah terlihat, begitupun aku disambut dengan burung-burung yang kian hati begitu manis terdengar. Jalan menampung air hujan yang entah kapan turunnya. Kerinduan bukan tentang alam dan semesta keindahannya saja, melainkan mereka. Mereka yang kali ini aku lihat setelah lama mengembara di kota.

“Assalamu’alaikum, Mas.”
“Wa’alaikumsallam.”

Segerombolan bocah-bocah yang khidmat dengan kedamaian. Disampaikan oleh mereka dalam tawa, canda dan saling akrab. Bocah-bocah putera dengan peci hitam, putih, corak batik dan warna lainnya. Sarung-sarung yang terpakai rapi atau diikatkan di pinggang mereka, sambil berlarian kian kemari seraya pula bermain. Ada juga bocah-bocah putri bermukena manis saling menyapa dan bertutur kata dengan anggun. Mereka membuatku mengingatkanku pada masa lalu, saat aku seusia mereka.

Rumah dan kampung halaman. Aku datang untukmu kali ini dan saat ini juga. Ada juga teman-teman di kampung halaman yang menjadi romantisme sesungguhnya. Ya, aku ingin kembali merasakan nikmatnya bersama mereka dan sekaligus menikmati gorengan hangat Mbak Wati yang sudah beberapa tahun ini tidak sempat lagi kurasakan. Tidak lupa, omelan Mbak Wati yang suka sekali memberitahu kami untuk secepatnya pulang ke rumah masing-masing. Seusai bermain bola di lapangan ketika waktu sudah menjelang maghrib. Menakjubkan.


“”
Hidayatus-Sibyan. Tentang pulang kampung, tentu tidak mungkin kulupa untuk sesegera mungkin menuju Hidayatus-Sibyan sebagai rumah kedua yang mendidikku bersama teman-teman. Pendidikan dalam berbagai soal kehidupan dan tentang bagaimana pentingnya dimensi setelah di dunia ini. Semua diajarkan olehnya, rumah tercinta, pondok kehidupan.

“Bu, aku pergi ke pondok ya”
“Bentar, bawa ini. Masakan paling lezat Ibu untuk anak-anak dan Kyai Soleh.”
“Siap, Bu.”

Berjalanlah, sepasang kaki menapaki jalan yang penuh batu bercampur lumpur. Rasanya hujan membasahi tanah semesta ini begitu deras dengan waktu yang cukup lama. Langit masih menampakkan gelapnya. Gerimis dengan titik-titik dingin yang semakin menusuk kulit tangan dan menyebar ke seluruh tubuhku secara utuh. Payung biru yang cukup besar milik Ibu melindungiku dari gerimis.

Sampailah aku di halaman kenangan pondok. Pemuda laki-laki menyambut dan mengambil bawaanku dan disimpannya. Aku dituntun bocah-bocah lainnya menuju ruang tamu Kyai untuk bertamu. Sembari kudengar cerita bocah-bocah kecil. Saat itu kudengar mereka sedang membicarakan Mas Angga, si jagoan kampung yang ahli dalam  menggocek bola.

Selanjutnya, aku bertamu pada Kyai Soleh. Bercerita tentang kegiatanku di kota dan keadaan serta susana di sana. Selain itu, istri dan putri Kyai Soleh juga ikut dalam obrolan kami pagi itu.

“”

“Kemana Kang Yusuf?”

Benakku mulai bertanya tentangnya. Seorang laki-laki yang tak pernah kulupakan selama hidup ini, seusai pertemuanku dengannya bertahun-tahun silam. Biasanya ia mengajar ngaji di pondok dan bercerita bersama di ruang tamu ini.

Seusai bertamu, aku meminta izin pada Kyai Soleh untuk segera pamit dan bertemu Kang Yusuf. Pertemuanku dengannya adalah keindahan lain yang benar-benar kusyukuri di kampung halaman. Usiaku dengannya hanya terpaut dua tahun di atasku. Namun bukan sekadar teman, sahabat atau kakak, tetapi ia layaknya seorang guru yang begitu kukagumi. Kang Yusuf, sesegera mungkin langkah kaki ini menuntunku bertegur sapa dengannya dan bercerita tentang segala hal.

Tubuhnya lebih pendek dibandingkanku. Hanya saja, tangannya begitu terlihat kekar menampakan kerja kerasnya. Wajahnya bersih menampilkan kedamaian bagi siapa saja yang melihatnya. Cara bertutur-kata Kang Yusuf begitu cepat, tetapi selalu saja ditunggu setiap orang untuk mendengar cerita dan pengalaman yang ia miliki, sebagai hasil kerja kerasnya.

Rumahnya menampakkan kesederhanaan. Sebelum ini, rumahnya masih berlantaikan langsung pada tanah. Setahun kemudian satu penelitian dengan hasil karya ilmiahnya dihargai pihak asing sebesar jutaan rupiah. Saat ini tak ada lagi lantai tanah, berubah dan terlihat mengkilap dengan keramik hijau, sesuai dengan warna kesukaannya.

Namun, dindingnya masih menampakkan kesederhanaan dan langit-langit rumahnya tidak dilapisi apapun atau langsung beratapkan genteng kecokelatan. Mungkin saja masih terjadi bocor di sana-sini. Aku sampai di depan rumah salah satu guru sang pengagum sirah nabawiyah ini.

“Assalamu’alaikum”
“Wa’alikumsallam, Teguh apa kabar?”

Di ruang tamu, aku disambut dengan berbagai sertifikat internasional dan foto-foto Kang Yusuf ketika berada di Belanda, Inggris dan negara lainnya. Aku bertemu dengan Ibu Kang Yusuf yang kemudian disambut lagi oleh Bapak Kang Yusuf. Kami bercerita bersama terlebih dahulu, sama seperti saat berada di pondok Kyai Soleh sebelumnya..

“Di mana Kang Yusuf, Pak?”

Bapak Kang Yusuf segera menyambut pertanyaanku.

“Seperti biasanya Mas Teguh, ia tidak di rumah, katanya ada undangan di luar kota tapi ya nggak tahu luar kota yang mana. Mas Teguh sendiri kan tahu, kalau Yusuf kan sekali keluar rumah, tiba-tiba udah di Bogor, Yogyakarta, Malang, Bali bahkan sampai Nusa Tenggara. Dia baru mengabari ketika ia sudah sampai tempat tujuan. Dua hari yang lalu, Yusuf pamit main dulu keluar. Tiba-tiba sorenya udah kasih kabar dia ada di Bogor, katanya ada undangan pelatihan kepemudaan. Tapi ya sekarang, saya nggak tahu dia di mana. Doain aja biar di selamat ya Mas Teguh.”

Ya, Allah. Itulah guruku, seorang pemuda yang banyak mengajariku berbagai hal. Sayang sekali, aku tidak bisa bertemu dengannya. Hanya sesekali aku berkirim pesan singkat dengan Kang Yusuf akibat kesibukan yang ia dapati setiap harinya. Namun, ia selalu mengajariku bagaimana penghargaan terhadap sesama dan jangan saling melupakan.

Dimulai dari SMP, Kang Yusuf mulai aktif dalam berbagai kegiatan. Sampai kemudian ia aktif untuk melindungi anak-anak dalam berbagai bentuk kekerasan. Sampai kemudian berbagai seleksi ia ikuti untuk aktif dalam perlindungan anak dan hasilnya ia keluar sebagai perwakilan Asia pada sebuah organisasi perlindungan anak. Kali ini, ia aktif di salah satu organisasi anak internasional yang saat ini hanya aktif di Nusa Tenggara Barat dan berkantor utama di Inggris.

Banyak pemuda dan segala golongan yang sering berkunjung ke rumahnya untuk sekadar mendengar pengalamannya. Saat kutanya, siapa yang pernah berkunjung ke rumah Kang Yusuf dan punya jabatan cukup tinggi. Ia lantas menjawab bahwa seseorang pernah datang ke rumahnya dan meminta sedikit pendapat. Katanya, orang tersebut kali ini menjadi staf khusus kepresidenan di Istana Negara.

Kerja keras Kang Yusuf membawanya berkelana ke berbagai negara. Sekaligus ketika ia diberikan kesempatan untuk mendengarkan cerita Malala, secara langsung di ruang PBB dan menyampaikan pendapatnya secara langsung pada saat Malala Day di ruang PBB itu juga. Sampai kemudian Kang Yusuf bisa pergi ke negara-negara lainnya dan membuktikan kepada siapapun bahwa kerja kerasnya bukanlah hal yang sia-sia.

Kang Yusuf, kerja kerasmu adalah inspirasi bagi setiap pemuda yang berteman denganmu. Bahkan dengan orang yang sekalipun tak kenal denganmu. Hanya membaca tulisanmu saja adalah inspirasi yang cukup membuat banyak orang tergugah untuk bekerja keras pula.

Sayang seribu sayang, aku tidak bisa bertemu dengannya. Padahal, aku ingin mendengar segala cerita tentang apapun yang kau tuangkan untukku. Hal yang tak pernah kulupakan darinya adalah bagaimana cara ia mendapatkan semua hal itu dengan cara menghormati orang tua. Pondok jugalah sebagai tempat keindahan pembelajaran hidup. Tentang saling menghargai dan mengenal ke-Esaan-Nya, cukup berpengaruh untuk kehidupan yang lekat dengan kerja kerasnya saat ini.

Pada sebuah kesempatan ia pernah bercerita, “Guh, hidup dan kehidupan ini adalah jalan yang benar-benar harus kamu hadapi. Namun, bukan tentang kerja keras saja kamu akan berhasil mendapat kebahagiaan itu. Tapi juga dengan saling menghargai dan berdoa pada pemilik segala ciptaan ini. Hal yang harus kamu juga ingat, doamu tak elok hanya hadir sebagai apapun permintaanmu, tapi kamu juga harus memuji-muji dan bersyukur pada-Nya. Barulah kamu pantas berdoa pada-Nya. Sekarang, masa kamu udah dikasih dunia ini, terus kamu langsung minta gitu aja. Ya sebaiknya memuji dululah dengan niat karena Allah SWT sebagai Sang Pemilik Alam ini.”

Itulah yang membuatku paham ketika ia menjadi Imam Shalat ku. Seusai Shalat diakhiri salam, terkadang ia langsung pergi begitu saja. Jawaban sudah kudapati atas perilaku yang sering ia ajarkan dan terkadang membuatku penasaran. Bahwa kalau tidak mau memuji dan berdzikir pada-Nya, lebih baik tidak usah berdoa dan menyiapkan waktu berdzikir dan doa di lain waktu yang lebih khusus.

Kang Yusuf, aku tidak tahu ke mana lagi kamu akan berkelana. Mungkin ke Yogya, Malang atau mungkin kamu akan berlanjut pada petualanganmu selanjutnya di luar pulau ini. Berada di sebuah pesawat menuju Nusa Tenggara Barat atau ke tempat lainnya untuk mendidik anak-anak dengan segala kepedulianmu.

Namun, secangkir kopi hangat bersama keluargamu masih mampu untuk melantunkan keindahan baru tentang kepedulian dan peran penting pemuda untuk bertindak. Sampai, ada salah satu wartawan pernah menuliskan tentangmu dan telah kubaca berjudul “Pemuda Lokal dari Stasiun sampai New York”. Kang Yusuf, temanku, sahabatku, saudaraku bahkan guruku. Bahwa aku pun akan mencoba untuk selalu bekerja keras dalam bidangku sendiri. Agar menjadi pemuda yang teguh dan peduli pada sesama dengan niat pada Allah. Bersama doa-doa dan pujian-pujian pada-Nya. Salam hormat untukmu guruku.

Di luar rumah yang berlantaikan keramik hijau. Hujan turun dengan derasnya. Pagiku hadir dengan selimut kehangatan keluarga Kang Yusuf, lengkap dengan secangkir kopi. Allah yang menciptakan, manusia yang menemukan, pada sebentuk karya kita masing-masing. Aku percaya bahwa doa atas syukur pada-Nya akan berkabul dengan tanda hujan yang lengkap dengan khidmat dan utuh.

Semarang, 2018

Hujan di Balik Senja

Langkah kakiku masih melaju, menyusuri tebing yang berhadapan langsung dengan laut selatan Pulau Jawa. Ruas jalan sempit, kerikil tajam dan hanya dapat dilalui oleh satu orang secara berurutan. Lautannya tepat di sebelah kiriku dengan jurang yang curam. Tanganku selalu lekat dengan akar pohon di tebing sebelah kanan. Entahlah, aku masih menyukai perjalanan yang selalu penuh tantangan ini. Berhadapan langsung dengan batas kewajaran manusia untuk bertahan hidup.

Hanya saja, ada yang berbeda dalam perjalananku kali ini. Seorang perempuan bernama Puspita tiba-tiba menawari dirinya untuk ikut dalam perjalanan. Mungkin, ia ingin melihat pemandangan indah negeri ini yang selalu kutuliskan. Sekalipun, ada alasan lain yang hanya ia tahu.

Desa Karangduwur / Menganti, Kabupaten Kebumen.

"Pita, kenapa kamu mau ikut denganku kali ini?"

"Hmmm. Apa ya? Mungkin, aku hanya ingin tahu. Kenapa seorang manusia sepertimu, bisa bahagia untuk melakukan perjalanan seperti ini. Apa kamu tidak punya rasa takut? Terjatuh, dipalak di tempat asing, atau bahaya lainnya?"

"Semesta ini terlalu luas untuk setiap manusia dan manusia juga punya satu kesempatan untuk hidup."

"Maksudnya? Kok jadi filosfis gitu."

"Setiap orang punya satu kesempatan untuk hidup. Sayang sekali kalau hidup itu dijalani hanya untuk berdiam, apalagi terlalu banyak di kamar. Sekalipun, cuma secuil untuk menikmati semesta ini. Setidaknya, aku punya kesempatan untuk benar-benar menikmati keindahan, proses berjalan, dan setiap keakraban dengan warga sekitar. Semua tak akan bahaya, kalau kamu akrab, dengan warga sekitar, dengan alam, dan tentu akrab dengan setiap hal yang jadi tujuanmu."

""

Perjalanan mengingatkanku pada banyak hal kenikmatan tentang melangkah. Wajah pun pada dasarnya adalah melihat ke depan. Setiap manusia pun terbatas untuk berjalan mundur ke belakang. Coba saja, jalan mundur setiap waktu, pasti ada banyak kesulitan, bahkan terlalu cepat lelah.

Agar lebih mudah, tubuh perlu berbalik arah dan kalau berbalik arah, wajah manusia lagi-lagi melihat ke depan dan melangkah ke depan lagi, begitulah seterusnya. Tuhan sejatinya mempermudahkan setiap manusia untuk berjalan ke depan dan ke depan.

Pada perjalanan ini, aku terlalu bersemangat dalam bercerita. Sembari mengajak Pita melihat pemandangan sekitar dan memberitahunya agar tetap berhati-hati dan tetap percaya bahwa perjalanan ini akan sampai pada hal yang indah. Sekalipun, sebelum sampai pada tujuan, Tuhan telah menyajikan keindahan itu.

Pita, "Kamu tahu ada berapa banyak manusia yang sama sepertimu?”

"Pertanyaan apa itu? Tentu aku tidak tahu."

"Ya, itu masalahnya. Ketidaktahuan jadi masalahnya. Lengkapnya, banyak orang tidak sadar apa yang sebenarnya ingin ia lakukan. Sebelum cara melangkah yang kamu ceritakan itu. Terkadang, ada banyak rasa takut, sampai perjalanan dan segala karya yang ada di dalam benaknya hanya tersimpan sebagai memori semata. Mungkin, termasuk aku. Bukankah, sedikit orang yang berani dan mau melakukan perjalanan semacam itu?"

"Setiap orang punya alasannya masing-masing. Kita pun nggak tahu, apa yang orang lain pikirkan. Perjalanan bukan sebatas sampai tujuan, tapi ada proses melangkah agar kita mengenal diri kita dan suasana di sekitar kita. Tentu, ada senyum yang tiba-tiba hadir dan takjub menikmati perjalanan. Begitupun, ada satu hal yang penting. Perjalanan bukan soal di alam saja, karena kita memiliki ketertarikan yang berbeda. Apa yang penting? Tentu karya dan karya. Aku melakukan perjalanan, saat aku ingin menuliskan banyak hal tentang kenikmatan perjalanan. Ada juga perjalanan untuk memilih musik, teater, berwirausaha, dan sebagainya."

"Ya, ada perjalanan di setiap bidang masing-masing. Itu maksudmu?"

"Tentu."

""

Sesekali kami berhenti untuk menikmati keindahan sekitar dan memotretnya. Lautan yang mengombak, tebing menjulang, merasakan desir angin laut yang hampir senja atau rerumputan asri yang tak dijejaki dengan bangunan. Banyak keasrian dalam perjalanan ini. Kulihat, sepasang mata Pita begitu seksama melihatnya. Aku beristirahat di atas rumput perbukitan. Pita seolah terbata melihat keagungan semesta. Ia potret warna langit, perbukitan, dan lautan yang lengkap dengan cakrawalanya.

Ia duduk tepat di sampingku, menjulurkan kakinya sembari menghembuskan nafas dengan leluasa. Mungkin, ia lega untuk tidak terlalu sibuk pada perhitungan keuangan dan perkerjaan kantor. Sekalipun hanya untuk beberapa hari.

Namun, aku yakin, perjalanan ini akan membuatnya lebih mau untuk menikmati keindahan semesta. Bekerja memang harus, tapi sesekali juga perlu melakukan hal berbeda dari kebiasaan sehari-harinya. Sepasang mataku melihatnya tersenyum, tiba-tiba aku seksama melihat senyuman itu, sampai aku mengingat tentang rasaku yang selalu bertahan untuk mencintainya. Tepat beberapa tahun yang lalu saat masih mahasiswa. Sekalipun, aku tahu bahwa ada seseorang yang lebih lekat dengan setianya kali ini.

Pita, "Ada satu hal sebenarnya, kenapa aku mau ikut bersamamu."

"Maksudnya?"

"Sudah bertahun-tahun aku punya pacar. Bertahun-tahun itu juga aku harus bersabar dan mengalah. Entah, selalu ada saja masalah dan masalah. Berulangkali aku ucap lelah, berulangkali juga ia membuatku bertahan. Sekalipun aku tak tahu, apa benar bahwa aku pantas bertahan karena alasan waktu bersama sudah begitu lama. Ya, kali ini, aku ingin sejenak pergi dan beristirahat dengan suasana yang berbeda."

Aku mendengarkan penuh setiap kata dan kalimat yang ia ucapkan. Ia tak tahu, bahwa bukan hanya buku perjalanan yang banyak kutuliskan. Tapi, ada buku-buku yang bertuliskan lengkap atas nama seorang perempuan yang kali ini tepat di sampingku.

Aku berani melakukan banyak petualangan ke berbagai tempat, tapi aku tak pernah berani untuk mengungkapkan perasaanku, padanya. Sampai, buku-buku itu hanya tersimpan di dalam laci mejaku, tanpa pernah dibaca olehnya.

Aku, "Aku tak paham soal itu. Sekalipun, aku tahu bahwa sabar terkadang punya waktu jeda dan bahkan batas. Mungkin, perjalanan ini tepat untukmu. Sesekali memang kamu perlu waktu untuk beristirahat pada banyak hal yang mengganggu benakmu."

"Heran, kenapa kamu sampai saat ini masih sendiri. Padahal, ada banyak perjalanan dan petualangan yang mampu membuat siapapun pacarmu tersenyum."

"Iya, aku juga heran. Kenapa waktu itu, aku tidak mengungkapkan rasaku secara langsung. Pada seorang perempuan yang terlalu banyak kutuliskan. Tapi, kali ini, ia sudah punya pelabuhan untuk hatinya. Entah setia atau tidak. Aku tak tahu."

""

Senja hampir tiba, burung-burung yang seolah berlambang angka tiga terbang dengan seasyiknya. Inilah tujuan perjalananku kali ini. Di atas perbukitan, di tepi lautan, lengkap dengan desir angin yang menyapa kulit tubuhku. Cakrawala tepat di depan kami berdua. Sepasang mataku telah merekam banyak hal dalam perjalanan ini. Begitu pun dengan benak yang melekatkan semua peristiwa dalam perjalanan ini. Tentu, begitu lengkap saat perempuan yang banyak kutulis. Kali ini memilih untuk ikut bersama dalam perjalananku. Kami pun menikmati senja dan bercerita tentang banyak hal dengan sepuasnya.

""

Keesokan harinya, aku antar Pita ke stasiun. Sebuah kota sudah menunggunya untuk kembali bekerja. Saat sinyal komunikasi sudah lancar, ia pun mulai disibukkan dengan berbagai panggilan telepon. Begitupun, kudengar saat ia banyak berkomunikasi dengan kekasihnya. Entahlah, aku tak melihat raut wajah yang tersenyum sebagaimana di atas perbukitan saat kemarin senja.

Pita, "Setelah ini, kamu mau ke mana?"

"Nanti malam aku berangkat ke Manado. Ada pekerjaan di sana."

"Nggak ada capeknya kamu, jangan lupa istirahat."

"Siap."

Kuberikan sebuah tas jinjing yang kudapat dari Lombok sebagai oleh-oleh untuknya. Lalu ia pergi dengan keretanya, menembus jarak antar provinsi untuk kembali pada kesibukan kota. Ialah seorang perempuan yang melekat dalam rasaku selama bertahun-tahun. Telah Tuhan hadirkan dalam salah satu perjalananku. Entah, aku tak tahu. Kapan ada waktu untuk melakukan perjalanan lagi bersamanya."

""

Pita sudah hampir setengah perjalanan sebelum sampai di Jakarta. Ia sengaja mematikan ponselnya untuk beristirahat penuh. Tas jinjing pemberian seorang lelaki yang ia kenal sejak beberapa tahun silam menarik perhatiannya. Anyaman khas Nusa Tenggara yang mempesona dari seorang petualang yang mampu membuatnya tersenyum di sebuah perjalanan. Tas jinjing ia buka, ia tak sadar ada barang tebal di dalam tas itu. Barang yang dibungkus kain yang juga khas Nusa Tenggara yang indah di negeri ini.

Kain indah itu ia buka, ada tiga buah buku yang ditulis oleh Swastamita Hakim. Seorang lelaki yang menemaninya berpetualang kemarin. Buku itu berjudul "Trilogi Hujan di Balik Senja". Buku berlambang angka satu hendak ia buka. Karena awal kisah trilogi, tentu diawali dengan bagian pertama, sebagaimana yang tampil di judulnya. Lembar demi lembar ia buka, sampai ia seksama pada satu halaman.

Kutuliskan
Trilogi tentang rasa
Untuk seorang perempuan
Yang menjelma dalam bait dan kisahku
Puspita Sekar Rembulan
Yang selalu mengajarkanku tentang rindu
Dan mengenalkanku pada senyuman yang indah

Sepasang mata Puspita masih seksama melihat halaman persembahan dalam trilogi tebal itu. Ada namanya yang dituliskan lengkap oleh si penulis. Ditulis lima tahun yang lalu, saat ia masih menjadi mahasiswa dan berteman dengan si penulis. Begitupun, saat ia belum memiliki kekasih. Si penulis adalah teman dekatnya sendiri. Seorang lelaki yang hari kemarin telah mengenalkannya sebuah cara, untuk menikmati semesta yang indah dengan banyaknya senyuman. Sampai, ada derai dari ujung matanya. Lengkap dengan banyak pertanyaan di dalam benak, tentang ketidaktahuannya untuk mengenal rasa yang ada di dekatnya waktu itu.

Semarang, 2019

Mengenal Jurnalisme Sastrawi

Awalnya, dua mingguan yang lalu, saya sedang asyik menelusuri lautan internet. Hanya untuk menemukenali dua fokus bacaan yang saya minati, yakni Sastra dan Politik.

Sebab, saya merasa bosan untuk membaca dua topik tersebut dalam kerangka tulisan yang terlalu ringkas dan kurang mendalam. Macam berita-berita media digital mayor yang hanya talir-ulur soal fakta dan saling tempel di media masing-masing.

Persoalan Sastra, emang udah banyak yang nulis dengan kerangka yang lebih mendalam. Sebut aja, Basabasi yang salah satu pengasuhnya ada Pak Joni Ariadinata (sama-sama orang Majalengka dengan saya), Jurnal Ruang yang sayang masih perbaikan aja websitenya sebulan terakhir lebih ini, atawa Galeri Buku Jakarta yang enak buat dibaca.

Saya pun mulai tertarik untuk membaca edisi dari luar negeri untuk persoalan sastra, macam Poetry Foundation atawa The New Yorker. Setidaknya media tersebutlah yang jadi markah web browser saya di laptop.

Picture

Nah, kalau bacaan politik agak susah saya cari di lautan internet ini. Saya hanya simpan tiga markah soal ini yakni Politik Today, Geotimes, dan The Jakarta Post. Keberatan saya soal politik yang hadir di media mayor hanyalah soal kurangnya khas cerita, sekalipun bukan termasuk fiksi, persoalan tersebut. Sebab, saya tertarik membaca karena cara penyampaiannya atau penceritaan alurnya.

Alhasil, saya lebih suka membaca tulisan orang-orang yang ada di balik layar, baik sastra atawa politik. Macam Eka Kurniawan, Bagja Hidayat, Seno Gumira Ajidarma dengan Obrolan Sukabnya di PanaJournal atawa tulisan yang ada di Kolom Tempo, baik Leila S. Chudori di Rubrik Jeda dengan ulasan film-filmnya, Putu Setia dengan Rubrik Cari Angin, dan tentunya Goenawan Mohamad dengan Catatan Pinggirnya yang selalu menimbulkan pertanyaan seusai membacanya.

Begitupun, isi kepala saya mulai mempertanyakan, “Apa ada yang enak dibaca, tapi ya bukan fiksi tapi ya macam cerita gitu?” Ealahnya, pas saya buka Crafters, ada satu tulisan yang menarik perhatian saya, berjudul '6 Langkah Menulis Karya Jurnalisme Sastra'.

Tulisan tersebut, membuat saya mulai mengenal Jon Franklin yang mendapatkan Nobel Prize kategori Feature Writing dengan karyanya yang berjudul “Mrs. Kelly’s Monster” begitupun Franklin mendapatkan Nobel Prize kedua dalam kategori Explanatory Journalism.

Katanya, di Amerika Serikat emang udah ada, karya jurnalisme bergaya sastra lewat gerakan New Journalism. Sepintas, abis nge-print Mrs. Kelly’s Monster karya Jon Franklin yang saya temukan di lautan internet. Emang, ada alur, dialog, adegan demi adegan dan khas lainnya, macam yang ada di Cerpen atawa Novel.

Lewat tulisan itu jualah, saya membaca Andreas Harsono dengan Jurnalisme Sastrawi yang ia kenalkan. Pada salah satu postingan di blognya, ia bertanya, “Mengapa jurnalisme sastrawi (literary journalism) tak berkembang di kalangan wartawan, sastrawan, seniman, dan cendekiawan Indonesia?”. Saat ia mengikuti matakuliah non-fiction writing dalam program Nieman Fellowship on Journalism di Universitas Harvard.

Katanya, Jurnalisme Sastrawi merupakan satu dari tiga genre jurnalisme yang ada di Amerika Serikat. Lewat reportase mendalam yang dituliskan dengan gaya sastrawi dan hasilnya yang enak dibaca. Jurnalisme Sastrawi ini juga memiliki banyak nama, macam narrative reporting, passionate journalism, atawa Pulitzer Prize menyebutnya sebagai explorative journalism.

Persoalan enak dibaca, yang terlintas dalam kepala saya yakni Tempo dengan slogannya 'enak dibaca dan perlu'. Ya, emang enak dibaca kalau membaca tulisan Goenawan Mohamad, Leila S. Chudori, atawa Putu Setia lewat rubriknya masing-masing.

Saya pun satu dua kali pernah membeli majalahnya, memang begitulah yang saya inginkan untuk menikmati bacaan. Sayangnya, duit kagak ada sebagai mahasiswa tingkat akhir, pada salah satu Prodi Ilmu Politik di Semarang.

Tentulah, saya hanya membaca secara digital karya mereka. Baik untuk membaca Bandung Mawardi dalam esai-sainya di Basabasi, menemukenali lebih lanjut karya Andreas Harsono dalam blognya, mencoba nyastra lewat karya Eka Kurniawan di blognya, numpang akrab orang Tempo dalam blognya Bagja Hidayat, atau menelusuri media populer macam Tirto, Geotimes, dan sebagainya.

Blog, blog, dan semua webblog, untung saja mereka masih mau berbagi tulisan atau setidaknya bercerita, di zaman yang makin mikir harus dapat penghasilan lebih dengan cara menjual karya.

Ini catatan agak pinggir yang membuat saya makin banyak tidak tahu akibat membaca. Macam Jurnalisme Sastrawi yang baru-baru ini mulai saya kenal. Tapi, entahlah kenapa saya menyukai untuk membaca, sekalipun saya makin tahu, bahwa semakin banyak membaca, semakin banyak pula yang saya tidak tahu.

Coba aja baca Andreas Harsono, dalam menyelesaikan buku A Nation in Name: Ethnic and Religious Violence in Post-Suharto Indonesia. Beliau membaca sekitar 120an buku soal Papua Barat. Katanya, “Setiap bab memerlukan banyak bacaan. Saya tak mau dikritik hanya karena belum baca buku yang penting.”

Lalu, apa mungkin Jurnalisme Sastrawi dapat berkembang di Indonesia?

Sepuluh tahun dari sekarang, mungkin jurnalisme tersebut akan lebih banyak berkembang. Lewat reportase mendalam di media masing-masing. Bila permasalahan tingkat membaca Indonesia yang agak anjlok bisa diselesaikan.

Saya yakin pada anak-anak muda di negeri ini. Orang-orang sekolahan yang tentu lebih banyak makan literatur. Begitupun, bila media-media tidak saling beradu terbitan soal mana yang pertama memberitakan atau mana judul paling menggemaskan untuk setiap terbitannya.

Saya meninggalkan pertanyaan dalam catatan kecil ini. Setidaknya, agar ada riwayat bertahun-tahun ke depan, apa permasalahan yang di atas sono bisa diselesaikan.