Halaman

Setahun Pandjer School

Pengurus Pandjer School


Yayasan Pusat Pembelajaran Kepemimpinan dan Kebijakan Pandjer (Pandjer School) merupakan organisasi independen yang bergerak pada isu-isu kepublikan yang tidak berafiliasi pada pemerintah, sistem politik, dan agama tertentu. Pandjer School berkomitmen mendorong negara menjadi organisasi yang berpihak pada pemenuhan hak-hak warga negara dan mendorong masyarakat menjadi warga negara yang mandiri. Pada 23 Agustus 2020, Pandjer School merayakan ulang tahun yang pertama.


Festival Media 2015

Photostory - Fesmed 2015

Pada 21 November 2015, saya menghadiri talkshow di Departemen Media Informasi Teknik BEM KMFT UGM. Talkshow ini dihadiri oleh peserta yang jumlahnya dapat terhitung jari. Aiman Witjaksono menjadi pembicara dalam talkshow ini.

Racun Imaji

ilustrasi-artikel

Menjelang malam, saat merpati kembali pada sangkarnya. Mey menerima tamparan ketujuh di wajahnya. Sedikit demi sedikit, sudut mulutnya mengelupas, bercak merah pun hadir.

Urat tangan lelaki paruh baya itu terlihat lebih kuat setelah menamparnya. Dadanya bidang menonjol di dalam kaos abu-abu yang ia pakai. Begitupun, otot lengannya lebih besar dari lubang lengan kaos miliknya.

Lelaki itu kemudian pergi, meninggalkan jejak bunyi pintu yang ditutup dengan kencang. Mey tak tahu, ke mana lelaki paruh baya itu pergi setelah setiap tamparan menjelang malam.

Setidaknya, lelaki paruh baya itu akan pergi selama dua malam. Lalu datang tiba-tiba menjelang fajar, mengoceh banyak hal, tidur dan pada siang harinya, tamparan itu akan muncul di pipinya. Bila ia bosan dengan tamparan, sabetan sabuk, rotan, atau apapun benda yang di dekatnya. Ia jadikan alat untuk membuat Mey terbunuh perlahan-lahan.

Mey meringkuk di samping meja makan, ada banyak rasa yang tak mampu terucap. Mey terkadang menyalahkan ibu yang tiba-tiba pergi. Pergi dengan lekat doa tetangga, terbenam di dalam tanah, dan entah menetap di mana.

Di antara bunyi gerimis, ada suara sepasang sandal yang bergesekan dengan lantai luar rumahnya. Pertanyaan pun timbul di kepala Mey, "Apa ayah belum puas dengan kekesalannya? Kenapa ia pulang lagi?".

Gagang pintu bergerak, lalu pintu berderit dan terbuka. Mey membenamkan kepalanya di antara tangan yang merangkul kakinya sendiri. Tubuhnya gemetar, hilang akal, dan tak dapat disebut satupun doa.

"Mey...", Ucap seseorang dengan lembut.

Mey angkat wajah, terlihat samar seorang lelaki di balik bercak air matanya. Gemetar tubuhnya mendekat dan masuk dalam pelukan seorang lelaki muda. Lelaki yang muda ini, amatlah berbeda sikapnya dengan lelaki yang Mey sebut sebagai ayah, si paruh baya itu.

"Kau harus pergi, Mey. Aku tak bisa melihatmu seperti ini terus."

"Mas, aku tak bisa pergi, semakin aku menjauhinya, semakin banyak luka yang akan ia kirimkan bila menemuiku, kau tahu sendiri kan."

"Kau tak akan pergi sendiri, tapi kita berdua yang pergi."

"Aku tak bisa, Mas. Sebaiknya kau yang pergi, atau ayah dan kawan-kawannya yang akan membunuhmu, bila ia melihatmu di sini."

"Berapa banyak sakit lagi yang akan kauterima di rumah ini? Rumah ini adalah neraka bagimu."

"Sudah cukup, Mas. Bawa aku ke kamar saja. Seperti yang biasa kaulakukan, dan lekaslah pergi. Aku hanya butuh tidur, luka pun bisa sembuh esok pagi."

“Aku akan memberinya peringatan, Mey. Aku tak bisa menyebutnya manusia dengan segala yang ia lakukan padamu.”

“Peringatan apa yang bisa kaulakukan? Kau bahkan yang akan terbunuh bila melawannya. Kau tahu persis siapa lelaki itu.”

“Setidaknya, aku akan melawan. Kalau kau tak bisa pergi dari rumah neraka ini. Aku yang akan membuatnya pergi dari dunia. Sekalipun itu akan membuatku pergi juga dari dunia ini.”

“Bila kau nekad, kau sama saja sepertinya. Hanya punya otot dan tak punya kepala.”

“Mey…”

“Sudah, Mas.”

“”

Lelaki yang muda itu mengangkat tubuh Mey ke atas ranjang. Lelaki itu merapikan rambut Mey yang berantakan, keningnya menerima ciuman manis setelah luka. Namun, di dalam kening Mey, ada banyak rencana untuk menyingkirkan ayah dari dunia ini.

"Mey, dia bukan ayahmu, percaya Mey." Lelaki muda itu semakin mendesaknya.

"Aku sudah bersamanya sejak kecil, Mas. Ia hanya kehilangan akal karena ibu tiada. Dia baik sebenarnya dan kehilangan membuatnya tak kendali."

"Ibumu sudah pergi sejak lima tahun lalu—"

"Mas, kehilangan seseorang yang ia cintai butuh waktu lama untuk sembuh—"

"Mey, sadarlah, aku tahu kau tak tahan dengan sikapnya, dia bukan ayahmu—"

"Lelaki ke berapa yang memang ayahku? Hanya dia yang mau menikahi ibuku. Sebaiknya, kau pergi, Mas."

"Mey,—"

"Pergi, Mas."

Mey palingkan tubuhnya membelakangi lelaki muda itu. Mulutnya terjeda, sejenak mereka saling terdiam, dan tangan lembut lelaki muda itu mengusap rambutnya. Begitupun, ada ciuman manis lagi di atas rambutnya. Sedangkan, di balik akar rambut itu, rencana untuk menyingkirkan ayah semakin memuncaki perasaan Mey. Lelaki muda itu kemudian meninggalkan Mey. Dengan jejak bunyi sandal yang terseret. Semakin menjauh dan lenyaplah suara itu di lengkap malam.

Sepasang mata Mey mulai terpejam, rencana untuk menyingkirkan ayah semakin menggila di dalam kepalanya. Mata terpejam hanyalah racun imaji yang menghancurkan isi kepalanya. Ia pun membuka paksa sepasang matanya dan ingin keluar dari ide gila itu.

Seharusnya, Mey bersyukur, bahwa ada seorang lelaki yang menikahi ibunya. Dibandingkan para lelaki yang pulang pergi mendekati ibu, seperti yang sering diucap si ayah itu. Ayah pun mencintai ibunya dengan begitu tiada berkira. Mey pun disayang dan dimanja oleh ayah sewaktu ibunya masih ada.

"Ayah hanya sedang hilang akal akibat kehilangan ibu", hatinya berbunyi.

Sepasang matanya mulai berat kantuk. Lalu perlahan terpejam, dan rencana untuk menyingkirkan ayah kembali hadir. Mey pun semakin membeci sepasang mata yang terpejam ini.

“”

Bila di sebuah fajar, ayah pulang ke rumah. Lalu memaki Mey dan kemudian tertidur di ranjangnya. Mey akan menghadirkan neraka di ranjang ayahnya dan cahaya merah akan mengelupaskan kulit si ayah. Sebagaimana rencana di kepala Mey yang telah lama hadir.

Korek api dan minyak yang mudah terbakar itu sudah sejak lama Mey persiapkan. Hanya tak ada keberanian di dalam hatinya. Sedangkan, begitu banyak luapan di dalam kepala Mey.

Kepalanya berucap untuk membakarnya, sedangkan hati bersenandung kesabaran untuk memaafkannya.

Namun, ada bunyi lelaki muda itu yang mulai merasuk ke dalam tubuhnya. Bahwa rumah ini adalah neraka untuknya. Mey pun tersenyum mengingat ucapan lelaki muda itu. Ciumannya akan selalu ia ingat, begitupun dengan tamparan seorang ayah yang sedang keluar rumah dan keluar akal.

“”

Pada malam dengan tamparan ayah ke tujuh di wajah Mey. Mey akan membangunkan merpati-merpati yang tertidur di sangkar masing-masing. Dengan api yang ia ciptakan di sekeliling tubuhnya, bukan lagi tubuh ayahnya. Lalu melengkapi rumah ini dengan api neraka buatannya sendiri.

Merpati-merpatipun mulai hilir mudik saat melihat neraka di rumah Mey. Mey berharap, seekor merpati dapat menyampaikan berita api buatannya pada ayah. Seekor lagi dapat menyampaikan ucapan terimakasihnya pada ciuman si lelaki muda. Begitupun, ia harap ada banyak merpati yang mengantarkan tubuh Mey pada ibu ke jauh sana.


Kota Semarang, 2020

Tolkien Legendarium Adalah Kisah Sederhana, Tapi Mengapa Saya Menyebutnya Rumit?

Ditulis oleh Najmul Ula.

ilustrasi-artikel

Saya punya kebiasaan menyelami satu semesta baru tiap tahunnya. Robert Langdon, Sherlock Holmes, Percy Jackson, Harry Potter, beberapa lainnya, dan tahun lalu A Song of Ice and Fire. Tidak banyak memang. Dan sekarang saya sudah banyak lupa dengan detail cerita semesta-semesta tadi.

Tahun ini, masa berdiam di rumah, semestinya saya juga mengenal semesta baru. Sewaktu pulang ke rumah (benar, saya mudik), saya teringat memiliki buku pertama The Lord of The Rings, The Fellowship of The Ring. Buku itu saya beli saat mahasiswa baru, sepertinya. Karena bekas, harganya tentu murah dan sesuai dengan kantong saat itu.

Jadilah saya memutuskan melengkapi koleksi semesta JRR Tolkien. Dimulai dari The Hobbit (buku prekuel), buku bekas juga. Lalu buku ketiga The Return of The King, buku baru yang didiskon sampai Rp21 ribu. Untuk buku kedua, The Two Towers, karena saya tidak menemukan buku diskon/buku bekas, jadilah saya mengunduh epub gratisan.

***

Saya sempat mengatakan bahwa A Song of Ice and Fire karya George RR Martin—pembaca mungkin lebih familiar dengan adaptasi televisinya, Game of Thrones- sebagai karya fiksi dengan semesta terluas yang pernah saya baca. Setelah membaca seri The Lord of The Rings, saya tetap mempertahankan anggapan itu, walau JRR Tolkien memiliki kompleksitas yang lebih rumit.

Maksud saya, The Known World-nya George RR Martin memang sangat luas, dan Middle Earth-nya JRR Tolkien terlihat cuma mencakup wilayah seukuran benua Eropa. Namun saya sangat bisa memahami alur sejarah di A Song of Ice and Fire karena dunia tersebut sepenuhnya hanya memiliki karakter manusia, mayoritas diceritakan dengan bahasa umum (common tongue). Kalaupun ada bahasa minor, seperti bahasa dothraki atau bahasa valyria, semuanya tak sampai membikin saya pusing.

Sedangkan ketika memasuki semesta The Lord of The Rings—orang-orang menyebutnya Tolkien Legendarium, kita paling tidak akan bertemu empat makhluk, yaitu manusia, kurcaci, peri, dan hobbit itu sendiri. Itu belum termasuk makhluk berbicara lain seperti orc, ent, goblin, dan bahkan hewan-hewan di novel prekuel The Hobbit pun bisa berbicara. Lingua franca yang digunakan di sana adalah bahasa Westron, tetapi masing-masing jenis makhluk mempunyai bahasa tersendiri.

Tentu saja, kompleksitas latar belakang di Tolkien Legendarium yang melibatkan banyak makhluk membuat pembaca dengan pikiran rusak seperti saya tak bisa dikatakan “khatam”. Bayangkan saja, untuk menyebut nama tempat saja, masing-masing ada penyebutan untuk bahasa manusia, bahasa kurcaci, dan bahasa peri. Itu belum termasuk sejarah masing-masing makhluk yang bila dirunut bisa mencapai ribuan tahun sebelum kejadian di buku. Kekayaan bahasa seperti itu jelas berasal dari JRR Tolkien sendiri yang merupakan seorang profesor linguistik di Oxford University.

Sepertinya saya harus membaca puluhan kali agar bisa sepenuhnya memahami sepenuhnya Tolkien Legendarium. Saya perlu meniru aktor pemeran Saruman, Sir Christopher Lee, yang diketahui membaca The Lord of The Rings setahun sekali sampai ia meninggal di usia 93 tahun pada 2015. Selain itu, buku tambahan di semesta JRR Tolkien juga ada beberapa, seperti The Silmarillion atau The Unfinished Tales, yang belum saya baca.

***

Melalui The Hobbit, JRR Tolkien mengenalkan pada dunia tentang makhluk hobbit. Pendek, hidup di lubang di tanah, kaki dengan kulit tebal dan berambut, dan sangat doyan makan. Di Middle Earth, kaum hobbit mendiami wilayah bernama The Shire, yang tenang dan bersahaja.

Bilbo Baggins merupakan seorang hobbit terpandang, yang dipilih penyihir Gandalf The Grey untuk menjalani misi bersama 13 kurcaci. Kaum kurcaci ingin merebut harta mereka yang tertimbun di Gunung Sunyi, dijaga oleh naga jahat bernama Smaug.

The Hobbit terbit pada 1937, diceritakan dengan jenaka, karena sasaran Tolkien adalah pembaca anak-anak. Karena laku di pasaran, pihak penerbit meminta Tolkien untuk membuat cerita lanjutan. Tolkien menyanggupi. Sekitar satu dekade ia menggodok sebuah cerita mengenai cincin yang ditemukan Bilbo Baggins di gua tempat tinggal Gollum.

Jadilah serial The Lord of The Rings terbit pada 1954. Tak ada lagi nada jenaka. Middle-earth kini dinaungi kegelapan, kekuatan sangat jahat sedang membangun pasukan di Timur. Nyaris seperti cerita thriller, masing-masing karakter protagonis berpacu dengan waktu untuk mencegah musuh berkuasa.

Kepopuleran The Lord of The Rings diangkat Peter Jackson ke layar lebar, dan meraup sukses besar. Trilogi film yang dibintangi Elijah Wood dan Viggo Mortensen tak hanya laris di pasaran, melainkan juga disukai kritikus. Dan juga, trilogi yang bila digabungkan hampir berdurasi setengah hari tersebut dinominasikan dalam 30 kategori Academy Awards, terbanyak sepanjang sejarah perfilman Hollywood.

***

Saya mengakui bahwa Tolkien Legendarium adalah kisah luar biasa, dipengaruhi berbagai mitologi yang diramu menjadi sebuah semesta yang lebih luas daripada yang pernah dibayangkan para novelis. Akan tetapi, sekali lagi, karena saya baru membaca serial A Song of Ice and Fire—dan saya baru membaca tiga buku pertama- yang punya banyak karakter berlainan kepentingan, maka The Lord of The Rings akan terlihat sebagai kisah sederhana.

Di The Lord of The Rings, Hanya ada dua sisi, yaitu si baik dan si jahat. Hanya ada dua tempat, yakni tempat aman dan tidak aman. Biarpun akan ada berbagai konflik, pengorbanan, serta satu-dua kehilangan, kita akan tahu kebaikan akan menang.

Bagi pembaca perempuan yang ingin menyaksikan gendernya terepresentasi sebanyak mungkin dalam seluruh kehidupan, Tolkien Legendarium bukan pilihan terbaik. Hanya ada tiga karakter perempuan, itu pun bukan karakter utama, yaitu Arwen Undomiel, Lady Galadriel, dan Eowyn putri Eomund. Pemeran Arwen, Liv Tyler, sampai sumringah saat Miranda Otto datang ke lokasi shooting The Lord of The Rings karena tak ada karakter perempuan lain. Meski begitu, karakter Eowyn terlihat sebagai upaya kuat Tolkien untuk menyampaikan pesan mengenai apa yang sekarang digalakkan para aktivis perempuan.

Saya belum puas, saya belum sepenuhnya memahami Tolkien Legendarium sampai akar-akarnya. Mungkin saya akan membaca ulang.



Najmul Ula.
Sombong seperti Lannister, makan seperti Hobbit.