/ / Lawang Sewu dan Sahabat

Lawang Sewu dan Sahabat

Gambar
Lawang Sewu. 06/02/2019.
Perempuan yang kutemui hari ini. Telah mengenalkan namanya sebagai Yetra Putri, hampir setahun yang lalu. Seorang putri Minang yang berkuliah di Kota Padang. Perempuan yang kukenal lewat pesan singkat, tanpa adanya pertemuan dengan saling sapa. Padahal, apa kau tahu?

Sudah ada beberapa acara, di mana aku dan dirinya berada di dalamnya, begitupun dengan tempat yang berbeda. Hanya saja, belum ada percakapan atau saling sapa secara langsung antar kami dalam acara tersebut.

Gambar
Danau Toba. 23/04/2017.
Pada 2017, saat aku bosan dengan aktivitas sebagai mahasiswa di Semarang. Sekaligus, saat aku masih merasakan kehilangan Ibu di Semesta ini. Dua sahabatku bernama Arum dan Riko mengajakku untuk menuliskan sebuah kompetisi esai.

Hingga akhirnya, kami dapat berangkat ke Medan dan membuahkan hasil juara kedua waktu itu. Padahal, sebenarnya aku hanya ingin menikmati Danau Toba yang telah kubaca di berbagai sumber. Bahkan, saat aku pernah berkata pada temanku yang asli Medan. Bahwa aku bermimpi menjejakkan langkah di Danau Toba.

Sebagai tanda, akan ada perjalanan yang membawaku ke sana. Sampai, akhirnya, benar-benar aku bisa menjejakkan langkah di Danau Toba, dengan lingkungan yang rupawan dari guratan negeri ini.

Aku tak menyangka bahwa ada Yetra Putri yang menjadi peserta waktu itu. Kalau tak salah, ia menjadi peserta dari bagian kompetisi debat dan tentu berbeda denganku di kompetisi esai. Mungkin, perbedaan bidang kompetisi tersebut yang tak menghadirkan percakapan antara aku dan dirinya.

Lalu, pada 2018, seorang temanku bernama Raji mencatat namaku sebagai bagian dari kompetisi, tanpa sepengetahuanku. Waktu itu, kompetisi berada di bidang penelitian. Awalnya aku tak tertarik, hanya saja, saat aku tahu bahwa kompetisi akan berlangsung di Padang yang terkenal dengan Tanah Minangnya.

Aku pun teringat pada Novel karya HAMKA yang berjudul 'Tenggelamnya Kapal Van der Wijck'. Akhirnya, aku pun memilih berangkat. Setelah sebulan penuh, kuhabiskan catatan untuk merevisi penelitian yang akan menjadi modal kompetisi kami di Padang. Tak lupa, ada Amalia sebagai anggota lainnya di kompetisi waktu itu.

Gambar
Museum Adityawarman, Padang. Pada 7/04/2018.
Saat kompetisi berlangsung di Padang. Aku melihat ada peserta yang memakai almet Universitas Panca Budi Medan. Tempat kompetisiku di Medan pada 2017. Alhasil, ada daya tarik untuk mengetahui peserta lainnya.

Ternyata, ada Yetra Putri yang bukan menjadi peserta. Melainkan, ia yang menjadi tuan rumah kompetisi di Padang. Aku baru tahu, saat perjalanan udara ke Jakarta yang berlanjut dengan perjalanan kereta ke Semarang. Entah, aku lupa siapa yang memulai percakapan waktu itu. Apakah aku atau Yetra.

Berhari-hari kemudian, ia mulai mengetahui bahwa aku banyak menuliskan puisi. Terkadang ia menikmati puisi yang kutuliskan. Bahkan, hal yang menjadi penting dalam sejarah kepenulisanku terkait sastra.

Yetra adalah perempuan pertama yang mau berkolaborasi karya denganku. Waktu itu, ia kirimkan sebuah potret, lalu kutuliskan bait di dalamnya. Sampai akhirnya, aku melahirkan karya bernama 'Potret Kata'.

Gambar

Senja dipotret oleh Yetra Putri pada Potret Kata pertamaku tersebut. Pada akhirnya, sekalipun belum ada saling sapa dan percakapan secara langsung. Kami mulai dekat sebagai teman dan ia menjadi bagian yang penting dalam sejarah karyaku.

Karya yang kuhadiahkan untuk Alm. Ibu, sebagai pengganti janji untuk menyembuhkannya di semesta ini. Ibu yang mengasuh banyak ide di dalam benakku sampai hari ini. Semoga Alm. Ibu mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya.

Lebih dari seminggu yang lalu. Yetra memberi kabar hendak berangkat ke Semarang. Kota tempat aku melanjutkan pendidikan. Entah, kenapa dunia terasa sempit. Sekaligus Tuhan merestui pertemuan antar sahabat baru, sebagaimana aku dan dirinya pada hari ini.

Tuhan pun merestui pertemuan kami di Lawang Sewu, pada siang hari yang cerah. Padahal, Februari terlalu melekat dengan hujannya yang lebat.

Sebenarnya aku malu saat hendak melakukan pertemuan. Sudah beberapa bulan, aku tak terbiasa tidur malam hari dan memulai tidur seusai fajar. Ahasil, lebih dari 10 kg berat badanku berkurang. Bahkan, tak elok untuk dipandang.

Namun, Yetra Putri memiliki kisah yang terlalu menarik denganku. Pertemuan tanpa saling kenal, pertemuan tanpa saling sapa, sampai pertemuan yang direstui Tuhan ternyata hadir di kota tempatku tinggal saat ini.

Sayang sekali, kalau tak ada pertemuan yang sesungguhnya. Sekalipun dalam waktu singkat dan aku belum mengajaknya berpetualang menikmati alam Tanah Jawa yang kukenal. Bahkan, belum sempat, aku mengajaknya melihat koleksi buku yang kumiliki atau setidaknya membicarakan karya bersama.

Terimakasih Tuhan, telah Engkau hadirkan kisah yang menarik untuk kutuliskan sebagaimana malam ini. Semoga, perempuan bernama Yetra Putri tetap mau menjadi sahabatku. Sekalipun, ada langkah dan jauhnya letak antara kami berdua.

Berikan keselamatan pada dirinya. Saat malam ini, ia melanjutkan perjalanan untuk menikmati Kota Jogja yang dulu selalu menjadi tempatku singgah. Bahkan dari Jogjalah, aku dapatkan sebagian besar buku yang kali ini menetap sebagai koleksi bacaanku di kamar.

Yetra Putri, entah kapan Tuhan merestui lagi pertemuan.

Semoga ketulusanmu menyetujuiku untuk menjadi sahabat barumu.

No comments:

Post a Comment