Guru Muda

Gambar

Rumah selalu menyimpan kerinduan. Ada malam bersama kunang-kunang atau serumpun bambu yang menjulang. Nuansanya menghadirkan kenangan, agar segera kembali kurasakan suasananya. Sudah terlalu lama, aku hidup di kota, dengan gemerlapnya cahaya buatan. Saat terkadang berubah menjadi kebosanan, lalu menuntunku untuk pulang pada cahaya alam di kampung halaman. Asri bersama semestanya yang telah membuatku terlahir dan tumbuh.

Gapura selamat datang sudah terlihat, begitupun aku disambut dengan burung-burung yang kian hati begitu manis terdengar. Jalan menampung air hujan yang entah kapan turunnya. Kerinduan bukan tentang alam dan semesta keindahannya saja, melainkan mereka. Mereka yang kali ini aku lihat setelah lama mengembara di kota.

“Assalamu’alaikum, Mas.”
“Wa’alaikumsallam.”

Segerombolan bocah-bocah yang khidmat dengan kedamaian. Disampaikan oleh mereka dalam tawa, canda dan saling akrab. Bocah-bocah putera dengan peci hitam, putih, corak batik dan warna lainnya. Sarung-sarung yang terpakai rapi atau diikatkan di pinggang mereka, sambil berlarian kian kemari seraya pula bermain. Ada juga bocah-bocah putri bermukena manis saling menyapa dan bertutur kata dengan anggun. Mereka membuatku mengingatkanku pada masa lalu, saat aku seusia mereka.

Rumah dan kampung halaman. Aku datang untukmu kali ini dan saat ini juga. Ada juga teman-teman di kampung halaman yang menjadi romantisme sesungguhnya. Ya, aku ingin kembali merasakan nikmatnya bersama mereka dan sekaligus menikmati gorengan hangat Mbak Wati yang sudah beberapa tahun ini tidak sempat lagi kurasakan. Tidak lupa, omelan Mbak Wati yang suka sekali memberitahu kami untuk secepatnya pulang ke rumah masing-masing. Seusai bermain bola di lapangan ketika waktu sudah menjelang maghrib. Menakjubkan.


“”
Hidayatus-Sibyan. Tentang pulang kampung, tentu tidak mungkin kulupa untuk sesegera mungkin menuju Hidayatus-Sibyan sebagai rumah kedua yang mendidikku bersama teman-teman. Pendidikan dalam berbagai soal kehidupan dan tentang bagaimana pentingnya dimensi setelah di dunia ini. Semua diajarkan olehnya, rumah tercinta, pondok kehidupan.

“Bu, aku pergi ke pondok ya”
“Bentar, bawa ini. Masakan paling lezat Ibu untuk anak-anak dan Kyai Soleh.”
“Siap, Bu.”

Berjalanlah, sepasang kaki menapaki jalan yang penuh batu bercampur lumpur. Rasanya hujan membasahi tanah semesta ini begitu deras dengan waktu yang cukup lama. Langit masih menampakkan gelapnya. Gerimis dengan titik-titik dingin yang semakin menusuk kulit tangan dan menyebar ke seluruh tubuhku secara utuh. Payung biru yang cukup besar milik Ibu melindungiku dari gerimis.

Sampailah aku di halaman kenangan pondok. Pemuda laki-laki menyambut dan mengambil bawaanku dan disimpannya. Aku dituntun bocah-bocah lainnya menuju ruang tamu Kyai untuk bertamu. Sembari kudengar cerita bocah-bocah kecil. Saat itu kudengar mereka sedang membicarakan Mas Angga, si jagoan kampung yang ahli dalam  menggocek bola.

Selanjutnya, aku bertamu pada Kyai Soleh. Bercerita tentang kegiatanku di kota dan keadaan serta susana di sana. Selain itu, istri dan putri Kyai Soleh juga ikut dalam obrolan kami pagi itu.

“”

“Kemana Kang Yusuf?”

Benakku mulai bertanya tentangnya. Seorang laki-laki yang tak pernah kulupakan selama hidup ini, seusai pertemuanku dengannya bertahun-tahun silam. Biasanya ia mengajar ngaji di pondok dan bercerita bersama di ruang tamu ini.

Seusai bertamu, aku meminta izin pada Kyai Soleh untuk segera pamit dan bertemu Kang Yusuf. Pertemuanku dengannya adalah keindahan lain yang benar-benar kusyukuri di kampung halaman. Usiaku dengannya hanya terpaut dua tahun di atasku. Namun bukan sekadar teman, sahabat atau kakak, tetapi ia layaknya seorang guru yang begitu kukagumi. Kang Yusuf, sesegera mungkin langkah kaki ini menuntunku bertegur sapa dengannya dan bercerita tentang segala hal.

Tubuhnya lebih pendek dibandingkanku. Hanya saja, tangannya begitu terlihat kekar menampakan kerja kerasnya. Wajahnya bersih menampilkan kedamaian bagi siapa saja yang melihatnya. Cara bertutur-kata Kang Yusuf begitu cepat, tetapi selalu saja ditunggu setiap orang untuk mendengar cerita dan pengalaman yang ia miliki, sebagai hasil kerja kerasnya.

Rumahnya menampakkan kesederhanaan. Sebelum ini, rumahnya masih berlantaikan langsung pada tanah. Setahun kemudian satu penelitian dengan hasil karya ilmiahnya dihargai pihak asing sebesar jutaan rupiah. Saat ini tak ada lagi lantai tanah, berubah dan terlihat mengkilap dengan keramik hijau, sesuai dengan warna kesukaannya.

Namun, dindingnya masih menampakkan kesederhanaan dan langit-langit rumahnya tidak dilapisi apapun atau langsung beratapkan genteng kecokelatan. Mungkin saja masih terjadi bocor di sana-sini. Aku sampai di depan rumah salah satu guru sang pengagum sirah nabawiyah ini.

“Assalamu’alaikum”
“Wa’alikumsallam, Teguh apa kabar?”

Di ruang tamu, aku disambut dengan berbagai sertifikat internasional dan foto-foto Kang Yusuf ketika berada di Belanda, Inggris dan negara lainnya. Aku bertemu dengan Ibu Kang Yusuf yang kemudian disambut lagi oleh Bapak Kang Yusuf. Kami bercerita bersama terlebih dahulu, sama seperti saat berada di pondok Kyai Soleh sebelumnya..

“Di mana Kang Yusuf, Pak?”

Bapak Kang Yusuf segera menyambut pertanyaanku.

“Seperti biasanya Mas Teguh, ia tidak di rumah, katanya ada undangan di luar kota tapi ya nggak tahu luar kota yang mana. Mas Teguh sendiri kan tahu, kalau Yusuf kan sekali keluar rumah, tiba-tiba udah di Bogor, Yogyakarta, Malang, Bali bahkan sampai Nusa Tenggara. Dia baru mengabari ketika ia sudah sampai tempat tujuan. Dua hari yang lalu, Yusuf pamit main dulu keluar. Tiba-tiba sorenya udah kasih kabar dia ada di Bogor, katanya ada undangan pelatihan kepemudaan. Tapi ya sekarang, saya nggak tahu dia di mana. Doain aja biar di selamat ya Mas Teguh.”

Ya, Allah. Itulah guruku, seorang pemuda yang banyak mengajariku berbagai hal. Sayang sekali, aku tidak bisa bertemu dengannya. Hanya sesekali aku berkirim pesan singkat dengan Kang Yusuf akibat kesibukan yang ia dapati setiap harinya. Namun, ia selalu mengajariku bagaimana penghargaan terhadap sesama dan jangan saling melupakan.

Dimulai dari SMP, Kang Yusuf mulai aktif dalam berbagai kegiatan. Sampai kemudian ia aktif untuk melindungi anak-anak dalam berbagai bentuk kekerasan. Sampai kemudian berbagai seleksi ia ikuti untuk aktif dalam perlindungan anak dan hasilnya ia keluar sebagai perwakilan Asia pada sebuah organisasi perlindungan anak. Kali ini, ia aktif di salah satu organisasi anak internasional yang saat ini hanya aktif di Nusa Tenggara Barat dan berkantor utama di Inggris.

Banyak pemuda dan segala golongan yang sering berkunjung ke rumahnya untuk sekadar mendengar pengalamannya. Saat kutanya, siapa yang pernah berkunjung ke rumah Kang Yusuf dan punya jabatan cukup tinggi. Ia lantas menjawab bahwa seseorang pernah datang ke rumahnya dan meminta sedikit pendapat. Katanya, orang tersebut kali ini menjadi staf khusus kepresidenan di Istana Negara.

Kerja keras Kang Yusuf membawanya berkelana ke berbagai negara. Sekaligus ketika ia diberikan kesempatan untuk mendengarkan cerita Malala, secara langsung di ruang PBB dan menyampaikan pendapatnya secara langsung pada saat Malala Day di ruang PBB itu juga. Sampai kemudian Kang Yusuf bisa pergi ke negara-negara lainnya dan membuktikan kepada siapapun bahwa kerja kerasnya bukanlah hal yang sia-sia.

Kang Yusuf, kerja kerasmu adalah inspirasi bagi setiap pemuda yang berteman denganmu. Bahkan dengan orang yang sekalipun tak kenal denganmu. Hanya membaca tulisanmu saja adalah inspirasi yang cukup membuat banyak orang tergugah untuk bekerja keras pula.

Sayang seribu sayang, aku tidak bisa bertemu dengannya. Padahal, aku ingin mendengar segala cerita tentang apapun yang kau tuangkan untukku. Hal yang tak pernah kulupakan darinya adalah bagaimana cara ia mendapatkan semua hal itu dengan cara menghormati orang tua. Pondok jugalah sebagai tempat keindahan pembelajaran hidup. Tentang saling menghargai dan mengenal ke-Esaan-Nya, cukup berpengaruh untuk kehidupan yang lekat dengan kerja kerasnya saat ini.

Pada sebuah kesempatan ia pernah bercerita, “Guh, hidup dan kehidupan ini adalah jalan yang benar-benar harus kamu hadapi. Namun, bukan tentang kerja keras saja kamu akan berhasil mendapat kebahagiaan itu. Tapi juga dengan saling menghargai dan berdoa pada pemilik segala ciptaan ini. Hal yang harus kamu juga ingat, doamu tak elok hanya hadir sebagai apapun permintaanmu, tapi kamu juga harus memuji-muji dan bersyukur pada-Nya. Barulah kamu pantas berdoa pada-Nya. Sekarang, masa kamu udah dikasih dunia ini, terus kamu langsung minta gitu aja. Ya sebaiknya memuji dululah dengan niat karena Allah SWT sebagai Sang Pemilik Alam ini.”

Itulah yang membuatku paham ketika ia menjadi Imam Shalat ku. Seusai Shalat diakhiri salam, terkadang ia langsung pergi begitu saja. Jawaban sudah kudapati atas perilaku yang sering ia ajarkan dan terkadang membuatku penasaran. Bahwa kalau tidak mau memuji dan berdzikir pada-Nya, lebih baik tidak usah berdoa dan menyiapkan waktu berdzikir dan doa di lain waktu yang lebih khusus.

Kang Yusuf, aku tidak tahu ke mana lagi kamu akan berkelana. Mungkin ke Yogya, Malang atau mungkin kamu akan berlanjut pada petualanganmu selanjutnya di luar pulau ini. Berada di sebuah pesawat menuju Nusa Tenggara Barat atau ke tempat lainnya untuk mendidik anak-anak dengan segala kepedulianmu.

Namun, secangkir kopi hangat bersama keluargamu masih mampu untuk melantunkan keindahan baru tentang kepedulian dan peran penting pemuda untuk bertindak. Sampai, ada salah satu wartawan pernah menuliskan tentangmu dan telah kubaca berjudul “Pemuda Lokal dari Stasiun sampai New York”. Kang Yusuf, temanku, sahabatku, saudaraku bahkan guruku. Bahwa aku pun akan mencoba untuk selalu bekerja keras dalam bidangku sendiri. Agar menjadi pemuda yang teguh dan peduli pada sesama dengan niat pada Allah. Bersama doa-doa dan pujian-pujian pada-Nya. Salam hormat untukmu guruku.

Di luar rumah yang berlantaikan keramik hijau. Hujan turun dengan derasnya. Pagiku hadir dengan selimut kehangatan keluarga Kang Yusuf, lengkap dengan secangkir kopi. Allah yang menciptakan, manusia yang menemukan, pada sebentuk karya kita masing-masing. Aku percaya bahwa doa atas syukur pada-Nya akan berkabul dengan tanda hujan yang lengkap dengan khidmat dan utuh.

Semarang, 2018

Belum ada Komentar untuk "Guru Muda"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel