Hujan di Balik Senja

Langkah kakiku masih melaju, menyusuri tebing yang berhadapan langsung dengan laut selatan Pulau Jawa. Ruas jalan sempit, kerikil tajam dan hanya dapat dilalui oleh satu orang secara berurutan. Lautannya tepat di sebelah kiriku dengan jurang yang curam. Tanganku selalu lekat dengan akar pohon di tebing sebelah kanan. Entahlah, aku masih menyukai perjalanan yang selalu penuh tantangan ini. Berhadapan langsung dengan batas kewajaran manusia untuk bertahan hidup.

Hanya saja, ada yang berbeda dalam perjalananku kali ini. Seorang perempuan bernama Puspita tiba-tiba menawari dirinya untuk ikut dalam perjalanan. Mungkin, ia ingin melihat pemandangan indah negeri ini yang selalu kutuliskan. Sekalipun, ada alasan lain yang hanya ia tahu.

Desa Karangduwur / Menganti, Kabupaten Kebumen.

"Pita, kenapa kamu mau ikut denganku kali ini?"

"Hmmm. Apa ya? Mungkin, aku hanya ingin tahu. Kenapa seorang manusia sepertimu, bisa bahagia untuk melakukan perjalanan seperti ini. Apa kamu tidak punya rasa takut? Terjatuh, dipalak di tempat asing, atau bahaya lainnya?"

"Semesta ini terlalu luas untuk setiap manusia dan manusia juga punya satu kesempatan untuk hidup."

"Maksudnya? Kok jadi filosfis gitu."

"Setiap orang punya satu kesempatan untuk hidup. Sayang sekali kalau hidup itu dijalani hanya untuk berdiam, apalagi terlalu banyak di kamar. Sekalipun, cuma secuil untuk menikmati semesta ini. Setidaknya, aku punya kesempatan untuk benar-benar menikmati keindahan, proses berjalan, dan setiap keakraban dengan warga sekitar. Semua tak akan bahaya, kalau kamu akrab, dengan warga sekitar, dengan alam, dan tentu akrab dengan setiap hal yang jadi tujuanmu."

""

Perjalanan mengingatkanku pada banyak hal kenikmatan tentang melangkah. Wajah pun pada dasarnya adalah melihat ke depan. Setiap manusia pun terbatas untuk berjalan mundur ke belakang. Coba saja, jalan mundur setiap waktu, pasti ada banyak kesulitan, bahkan terlalu cepat lelah.

Agar lebih mudah, tubuh perlu berbalik arah dan kalau berbalik arah, wajah manusia lagi-lagi melihat ke depan dan melangkah ke depan lagi, begitulah seterusnya. Tuhan sejatinya mempermudahkan setiap manusia untuk berjalan ke depan dan ke depan.

Pada perjalanan ini, aku terlalu bersemangat dalam bercerita. Sembari mengajak Pita melihat pemandangan sekitar dan memberitahunya agar tetap berhati-hati dan tetap percaya bahwa perjalanan ini akan sampai pada hal yang indah. Sekalipun, sebelum sampai pada tujuan, Tuhan telah menyajikan keindahan itu.

Pita, "Kamu tahu ada berapa banyak manusia yang sama sepertimu?”

"Pertanyaan apa itu? Tentu aku tidak tahu."

"Ya, itu masalahnya. Ketidaktahuan jadi masalahnya. Lengkapnya, banyak orang tidak sadar apa yang sebenarnya ingin ia lakukan. Sebelum cara melangkah yang kamu ceritakan itu. Terkadang, ada banyak rasa takut, sampai perjalanan dan segala karya yang ada di dalam benaknya hanya tersimpan sebagai memori semata. Mungkin, termasuk aku. Bukankah, sedikit orang yang berani dan mau melakukan perjalanan semacam itu?"

"Setiap orang punya alasannya masing-masing. Kita pun nggak tahu, apa yang orang lain pikirkan. Perjalanan bukan sebatas sampai tujuan, tapi ada proses melangkah agar kita mengenal diri kita dan suasana di sekitar kita. Tentu, ada senyum yang tiba-tiba hadir dan takjub menikmati perjalanan. Begitupun, ada satu hal yang penting. Perjalanan bukan soal di alam saja, karena kita memiliki ketertarikan yang berbeda. Apa yang penting? Tentu karya dan karya. Aku melakukan perjalanan, saat aku ingin menuliskan banyak hal tentang kenikmatan perjalanan. Ada juga perjalanan untuk memilih musik, teater, berwirausaha, dan sebagainya."

"Ya, ada perjalanan di setiap bidang masing-masing. Itu maksudmu?"

"Tentu."

""

Sesekali kami berhenti untuk menikmati keindahan sekitar dan memotretnya. Lautan yang mengombak, tebing menjulang, merasakan desir angin laut yang hampir senja atau rerumputan asri yang tak dijejaki dengan bangunan. Banyak keasrian dalam perjalanan ini. Kulihat, sepasang mata Pita begitu seksama melihatnya. Aku beristirahat di atas rumput perbukitan. Pita seolah terbata melihat keagungan semesta. Ia potret warna langit, perbukitan, dan lautan yang lengkap dengan cakrawalanya.

Ia duduk tepat di sampingku, menjulurkan kakinya sembari menghembuskan nafas dengan leluasa. Mungkin, ia lega untuk tidak terlalu sibuk pada perhitungan keuangan dan perkerjaan kantor. Sekalipun hanya untuk beberapa hari.

Namun, aku yakin, perjalanan ini akan membuatnya lebih mau untuk menikmati keindahan semesta. Bekerja memang harus, tapi sesekali juga perlu melakukan hal berbeda dari kebiasaan sehari-harinya. Sepasang mataku melihatnya tersenyum, tiba-tiba aku seksama melihat senyuman itu, sampai aku mengingat tentang rasaku yang selalu bertahan untuk mencintainya. Tepat beberapa tahun yang lalu saat masih mahasiswa. Sekalipun, aku tahu bahwa ada seseorang yang lebih lekat dengan setianya kali ini.

Pita, "Ada satu hal sebenarnya, kenapa aku mau ikut bersamamu."

"Maksudnya?"

"Sudah bertahun-tahun aku punya pacar. Bertahun-tahun itu juga aku harus bersabar dan mengalah. Entah, selalu ada saja masalah dan masalah. Berulangkali aku ucap lelah, berulangkali juga ia membuatku bertahan. Sekalipun aku tak tahu, apa benar bahwa aku pantas bertahan karena alasan waktu bersama sudah begitu lama. Ya, kali ini, aku ingin sejenak pergi dan beristirahat dengan suasana yang berbeda."

Aku mendengarkan penuh setiap kata dan kalimat yang ia ucapkan. Ia tak tahu, bahwa bukan hanya buku perjalanan yang banyak kutuliskan. Tapi, ada buku-buku yang bertuliskan lengkap atas nama seorang perempuan yang kali ini tepat di sampingku.

Aku berani melakukan banyak petualangan ke berbagai tempat, tapi aku tak pernah berani untuk mengungkapkan perasaanku, padanya. Sampai, buku-buku itu hanya tersimpan di dalam laci mejaku, tanpa pernah dibaca olehnya.

Aku, "Aku tak paham soal itu. Sekalipun, aku tahu bahwa sabar terkadang punya waktu jeda dan bahkan batas. Mungkin, perjalanan ini tepat untukmu. Sesekali memang kamu perlu waktu untuk beristirahat pada banyak hal yang mengganggu benakmu."

"Heran, kenapa kamu sampai saat ini masih sendiri. Padahal, ada banyak perjalanan dan petualangan yang mampu membuat siapapun pacarmu tersenyum."

"Iya, aku juga heran. Kenapa waktu itu, aku tidak mengungkapkan rasaku secara langsung. Pada seorang perempuan yang terlalu banyak kutuliskan. Tapi, kali ini, ia sudah punya pelabuhan untuk hatinya. Entah setia atau tidak. Aku tak tahu."

""

Senja hampir tiba, burung-burung yang seolah berlambang angka tiga terbang dengan seasyiknya. Inilah tujuan perjalananku kali ini. Di atas perbukitan, di tepi lautan, lengkap dengan desir angin yang menyapa kulit tubuhku. Cakrawala tepat di depan kami berdua. Sepasang mataku telah merekam banyak hal dalam perjalanan ini. Begitu pun dengan benak yang melekatkan semua peristiwa dalam perjalanan ini. Tentu, begitu lengkap saat perempuan yang banyak kutulis. Kali ini memilih untuk ikut bersama dalam perjalananku. Kami pun menikmati senja dan bercerita tentang banyak hal dengan sepuasnya.

""

Keesokan harinya, aku antar Pita ke stasiun. Sebuah kota sudah menunggunya untuk kembali bekerja. Saat sinyal komunikasi sudah lancar, ia pun mulai disibukkan dengan berbagai panggilan telepon. Begitupun, kudengar saat ia banyak berkomunikasi dengan kekasihnya. Entahlah, aku tak melihat raut wajah yang tersenyum sebagaimana di atas perbukitan saat kemarin senja.

Pita, "Setelah ini, kamu mau ke mana?"

"Nanti malam aku berangkat ke Manado. Ada pekerjaan di sana."

"Nggak ada capeknya kamu, jangan lupa istirahat."

"Siap."

Kuberikan sebuah tas jinjing yang kudapat dari Lombok sebagai oleh-oleh untuknya. Lalu ia pergi dengan keretanya, menembus jarak antar provinsi untuk kembali pada kesibukan kota. Ialah seorang perempuan yang melekat dalam rasaku selama bertahun-tahun. Telah Tuhan hadirkan dalam salah satu perjalananku. Entah, aku tak tahu. Kapan ada waktu untuk melakukan perjalanan lagi bersamanya."

""

Pita sudah hampir setengah perjalanan sebelum sampai di Jakarta. Ia sengaja mematikan ponselnya untuk beristirahat penuh. Tas jinjing pemberian seorang lelaki yang ia kenal sejak beberapa tahun silam menarik perhatiannya. Anyaman khas Nusa Tenggara yang mempesona dari seorang petualang yang mampu membuatnya tersenyum di sebuah perjalanan. Tas jinjing ia buka, ia tak sadar ada barang tebal di dalam tas itu. Barang yang dibungkus kain yang juga khas Nusa Tenggara yang indah di negeri ini.

Kain indah itu ia buka, ada tiga buah buku yang ditulis oleh Swastamita Hakim. Seorang lelaki yang menemaninya berpetualang kemarin. Buku itu berjudul "Trilogi Hujan di Balik Senja". Buku berlambang angka satu hendak ia buka. Karena awal kisah trilogi, tentu diawali dengan bagian pertama, sebagaimana yang tampil di judulnya. Lembar demi lembar ia buka, sampai ia seksama pada satu halaman.

Kutuliskan
Trilogi tentang rasa
Untuk seorang perempuan
Yang menjelma dalam bait dan kisahku
Puspita Sekar Rembulan
Yang selalu mengajarkanku tentang rindu
Dan mengenalkanku pada senyuman yang indah

Sepasang mata Puspita masih seksama melihat halaman persembahan dalam trilogi tebal itu. Ada namanya yang dituliskan lengkap oleh si penulis. Ditulis lima tahun yang lalu, saat ia masih menjadi mahasiswa dan berteman dengan si penulis. Begitupun, saat ia belum memiliki kekasih. Si penulis adalah teman dekatnya sendiri. Seorang lelaki yang hari kemarin telah mengenalkannya sebuah cara, untuk menikmati semesta yang indah dengan banyaknya senyuman. Sampai, ada derai dari ujung matanya. Lengkap dengan banyak pertanyaan di dalam benak, tentang ketidaktahuannya untuk mengenal rasa yang ada di dekatnya waktu itu.

Semarang, 2019

Belum ada Komentar untuk "Hujan di Balik Senja"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel