/ / Mengenal Jurnalisme Sastrawi

Mengenal Jurnalisme Sastrawi

Awalnya, dua mingguan yang lalu, saya sedang asyik menelusuri lautan internet. Hanya untuk menemukenali dua fokus bacaan yang saya minati, yakni Sastra dan Politik.

Sebab, saya merasa bosan untuk membaca dua topik tersebut dalam kerangka tulisan yang terlalu ringkas dan kurang mendalam. Macam berita-berita media digital mayor yang hanya talir-ulur soal fakta dan saling tempel di media masing-masing.

Persoalan Sastra, emang udah banyak yang nulis dengan kerangka yang lebih mendalam. Sebut aja, Basabasi yang salah satu pengasuhnya ada Pak Joni Ariadinata (sama-sama orang Majalengka dengan saya), Jurnal Ruang yang sayang masih perbaikan aja websitenya sebulan terakhir lebih ini, atawa Galeri Buku Jakarta yang enak buat dibaca.

Saya pun mulai tertarik untuk membaca edisi dari luar negeri untuk persoalan sastra, macam Poetry Foundation atawa The New Yorker. Setidaknya media tersebutlah yang jadi markah web browser saya di laptop.

Picture

Nah, kalau bacaan politik agak susah saya cari di lautan internet ini. Saya hanya simpan tiga markah soal ini yakni Politik Today, Geotimes, dan The Jakarta Post. Keberatan saya soal politik yang hadir di media mayor hanyalah soal kurangnya khas cerita, sekalipun bukan termasuk fiksi, persoalan tersebut. Sebab, saya tertarik membaca karena cara penyampaiannya atau penceritaan alurnya.

Alhasil, saya lebih suka membaca tulisan orang-orang yang ada di balik layar, baik sastra atawa politik. Macam Eka Kurniawan, Bagja Hidayat, Seno Gumira Ajidarma dengan Obrolan Sukabnya di PanaJournal atawa tulisan yang ada di Kolom Tempo, baik Leila S. Chudori di Rubrik Jeda dengan ulasan film-filmnya, Putu Setia dengan Rubrik Cari Angin, dan tentunya Goenawan Mohamad dengan Catatan Pinggirnya yang selalu menimbulkan pertanyaan seusai membacanya.

Begitupun, isi kepala saya mulai mempertanyakan, “Apa ada yang enak dibaca, tapi ya bukan fiksi tapi ya macam cerita gitu?” Ealahnya, pas saya buka Crafters, ada satu tulisan yang menarik perhatian saya, berjudul '6 Langkah Menulis Karya Jurnalisme Sastra'.

Tulisan tersebut, membuat saya mulai mengenal Jon Franklin yang mendapatkan Nobel Prize kategori Feature Writing dengan karyanya yang berjudul “Mrs. Kelly’s Monster” begitupun Franklin mendapatkan Nobel Prize kedua dalam kategori Explanatory Journalism.

Katanya, di Amerika Serikat emang udah ada, karya jurnalisme bergaya sastra lewat gerakan New Journalism. Sepintas, abis nge-print Mrs. Kelly’s Monster karya Jon Franklin yang saya temukan di lautan internet. Emang, ada alur, dialog, adegan demi adegan dan khas lainnya, macam yang ada di Cerpen atawa Novel.

Lewat tulisan itu jualah, saya membaca Andreas Harsono dengan Jurnalisme Sastrawi yang ia kenalkan. Pada salah satu postingan di blognya, ia bertanya, “Mengapa jurnalisme sastrawi (literary journalism) tak berkembang di kalangan wartawan, sastrawan, seniman, dan cendekiawan Indonesia?”. Saat ia mengikuti matakuliah non-fiction writing dalam program Nieman Fellowship on Journalism di Universitas Harvard.

Katanya, Jurnalisme Sastrawi merupakan satu dari tiga genre jurnalisme yang ada di Amerika Serikat. Lewat reportase mendalam yang dituliskan dengan gaya sastrawi dan hasilnya yang enak dibaca. Jurnalisme Sastrawi ini juga memiliki banyak nama, macam narrative reporting, passionate journalism, atawa Pulitzer Prize menyebutnya sebagai explorative journalism.

Persoalan enak dibaca, yang terlintas dalam kepala saya yakni Tempo dengan slogannya 'enak dibaca dan perlu'. Ya, emang enak dibaca kalau membaca tulisan Goenawan Mohamad, Leila S. Chudori, atawa Putu Setia lewat rubriknya masing-masing.

Saya pun satu dua kali pernah membeli majalahnya, memang begitulah yang saya inginkan untuk menikmati bacaan. Sayangnya, duit kagak ada sebagai mahasiswa tingkat akhir, pada salah satu Prodi Ilmu Politik di Semarang.

Tentulah, saya hanya membaca secara digital karya mereka. Baik untuk membaca Bandung Mawardi dalam esai-sainya di Basabasi, menemukenali lebih lanjut karya Andreas Harsono dalam blognya, mencoba nyastra lewat karya Eka Kurniawan di blognya, numpang akrab orang Tempo dalam blognya Bagja Hidayat, atau menelusuri media populer macam Tirto, Geotimes, dan sebagainya.

Blog, blog, dan semua webblog, untung saja mereka masih mau berbagi tulisan atau setidaknya bercerita, di zaman yang makin mikir harus dapat penghasilan lebih dengan cara menjual karya.

Ini catatan agak pinggir yang membuat saya makin banyak tidak tahu akibat membaca. Macam Jurnalisme Sastrawi yang baru-baru ini mulai saya kenal. Tapi, entahlah kenapa saya menyukai untuk membaca, sekalipun saya makin tahu, bahwa semakin banyak membaca, semakin banyak pula yang saya tidak tahu.

Coba aja baca Andreas Harsono, dalam menyelesaikan buku A Nation in Name: Ethnic and Religious Violence in Post-Suharto Indonesia. Beliau membaca sekitar 120an buku soal Papua Barat. Katanya, “Setiap bab memerlukan banyak bacaan. Saya tak mau dikritik hanya karena belum baca buku yang penting.”

Lalu, apa mungkin Jurnalisme Sastrawi dapat berkembang di Indonesia?

Sepuluh tahun dari sekarang, mungkin jurnalisme tersebut akan lebih banyak berkembang. Lewat reportase mendalam di media masing-masing. Bila permasalahan tingkat membaca Indonesia yang agak anjlok bisa diselesaikan.

Saya yakin pada anak-anak muda di negeri ini. Orang-orang sekolahan yang tentu lebih banyak makan literatur. Begitupun, bila media-media tidak saling beradu terbitan soal mana yang pertama memberitakan atau mana judul paling menggemaskan untuk setiap terbitannya.

Saya meninggalkan pertanyaan dalam catatan kecil ini. Setidaknya, agar ada riwayat bertahun-tahun ke depan, apa permasalahan yang di atas sono bisa diselesaikan.

No comments:

Post a Comment