Bukit Senja

Picture


Si…. Panggilanku. Lahir dari kisah asmara ayah dan bunda. Aku lelaki yang berhasil hidup dua puluh tahun dan tinggal di kaki pegunungan, pegunungan sampah tentunya. Setiap hari, berkilo-kilo meter jalan aku tempuh, berkilo-kilo meter itu juga botol plastik yang bermacam merk dan sudah kosong aku kumpulkan, tak lupa juga dengan kardus-kardusnya. Kadang dengan teman baikku secara berkelompok atau sendiri lebih sering, memungutnya satu-persatu.

Rumahku cukup besar bagiku yang seorang. Ukurannya tiga kali empat meter dengan sebuah ranjang yang aku pungut di pegunungan sampahku. Aku tidak mengerti, kenapa ada orang baik yang membuang ranjang yang bila aku paku di beberapa sisinya, kembali utuh dan bisa menjadi alas tempat tidurku. Setiap pukul tiga sore aku memulai pekerjaan, dinas berkeliling untuk mensensus keranjang-keranjang tong sampah warga. Selain itu, aku sudah punya langganan yang sampah-sampahnya disetorkannya padaku.

Jangan salah. Setiap pagi aku berkuliah, tiga kilo meter jaraknya. Naik sepeda yang besi-besinya aku pungut dari pegunungan sampahku. Pegunungan sampah yang membawa rezeki bagiku. Aku bebas, memilih mana yang bisa aku gunakan. Kemudian aku cuci, dilap sedikit-sedikit, kuperbaiki dan kufungsikan lagi berbagai barang itu. Sudah banyak lho, barang yang berhasil aku pungut dan jadi lebih berguna. Selain ranjang dan sepeda, ada kardus yang bisa aku jadikan tembok. Bahkan, setiap dua minggu sekali, aku bisa mengubahnya semauku. Lalu, ada kayu-kayu yang menjadi pondasi dan penguat rumahku. Rumahku paling unik, karena sifatnya yang portable. Aku bisa membangun rumah di mana pun sesukaku. enam jam adalah waktu paling lama dalam membuat rumah portableku.

Kalau aku ingin bersama senja sebelum malam, aku letakkan saja rumahku di Timur pegunungan sampah. Kalau aku ingin melihat sunrise, kata salah-satu teman bule di kampus, aku letakkan rumahku di sebelah Barat pegunungan sampah. Bukan main suhu di tempat tinggalku ini, ia bisa menjadi sangat panas ketika siang hari dan begitu dingin ketika malam.

Kalau di musim kemarau, aku biasa membuka atap rumah. Lalu aku tidur di kamar beribu bintang, bukan hanya bintang lima. Selain itu, setiap malam aku tidak hanya tidur di kamar berbintang, aku juga tidur bersama bulannya. Aku jadi orang paling percaya diri, sebab aku bisa mengalahkan si Stefani, si cantik jelita itu, perempuan yang ayahnya bukan hanya kaya, tetapi begitu kaya kata orang-orang. Stefani biasa tidur di apartemen mewah, tapi aku bisa tidur di kamar berbintang sekaligus dengan bulannya setiap malam.

“”

Bersama senjaku kali ini, aku ingat lagi padanya. Apa kalian tahu, aku pernah menyatakan cinta pada seorang perempuan. Bukan main juga rasa malu saat itu. Aku menyatakan cinta pada seorang perempuan cantik yang sebenar-benarnya. Aku rasa, aku sama tampannya dengan artis-artis di televisi waktu itu, dan aku beranikan saja untuk mengungkapkan. Setelah aku nyatakan cinta padanya, lalu kuberikan sesuatu yang mungkin tak ia duga sebelumnya. Pada seorang perempuan bernama Aqila.

“Aqila, akan aku tunjukkan sesuatu untukmu. Sebuah hadiah yang kuharap membuatmu senang.”

 “Apa itu, Si?”

Lalu, lukisan senja yang aku buat tiga bulan lamanya, kuberikan padanya. Gila, wajahnya menampakkan keanggunan, saat ia melihatnya. Ada pegunungan dan burung warna-warni yang ternyata membuatnya takjub. Sesekali aku begitu suka melukis, tepatnya tiga bulan sekali aku membeli kanvas, bingkai, dan cat-catnya. Hasil dari kiloan kardus dan botol-botol plastik. Selain itu, aku bersyukur, ada keringanan dalam menjalani masa kuliah. Kuliahku gratis di satu sisi, tapi di sisi lainnya aku tetap membutuhkan uang untuk beberapa hal, seperti fotocopy, makan, sesekali mentraktir dan sebagainya.

“”

“Si, boleh tunjukkan di mana letak senja ini?” Ucapnya.

“Saat ini ia ada dalam dirimu, senja beralih pada keikhlasan yang mampu membuat kita bisa bersama.”

Namun, pada suatu hari, aku tunjukkan secara langsung di mana letak lukisan senjaku. Ia keheranan bukan main. Setelah kutunjukkan rumah yang satu petak itu. Ia lebih keheranan lagi, di dalamnya ada ratusan buku yang sengaja aku beli sebulan sekali, hasil dari kiloan kardus dan botol-botol plastik yang aku cari setiap hari.

“Apa senja dilukisan ini, selalu kamu lihat di setiap sore, Si?”

“Tentu saja.”

“Apakah pegunungan ini adalah sampah-sampah yang menghidupimu selama ini, Si?”

“Tentu saja.”

“Apakah burung-burung di lukisan ini adalah puluhan merpati yang kamu pelihara di samping rumah kecilmu ini, Si?”

“Tentu saja.”

“Terimakasih atas lukisan senja manis yang kau buat, Si.”

“Tentu saja, itu sepenuhnya untukmu Aqila.”

“”

Beberapa waktu kemudian. Aku harus tahu bahwa aku akan kehilangan Aqila yang menjelma berbagai karyaku. Ternyata, ayah dan ibunya mengajak Aqila pergi ke tempat yang cukup jauh. Ia dan sekeluarga harus pindah ke suatu negeri di mana ada salju, musim semi, dan sakuranya.

Suatu hari sebelum kepergiannya hadir. Aku memboncenginya mengitari kota, pegunungan sampahku, dan membeli es krim serta cokelat kesukaannya. Kemudian, kami berhenti di sebuah pantai yang begitu jauh dari tempat kami berasal.

Aku pun bertanya, “Apa kamu meninggalkanku, karena keadaanku?”

“Tidak kok Si, aku bersamamu karena aku mau denganmu.”

“Lalu kenapa kamu harus pergi besok? Tempatnya cukup jauh dari peta yang aku miliki di tembok rumahku. Setelah kuhitung sesuai skala petanya, ada angka cukup tinggi yang menunjukkan jarak sebegitu jauhnya. Apa kamu tega meninggalkanku? Aku sudah tidak punya ayah dan bunda. Lalu kenapa kamu akan pergi juga besok?”

“Kita akan sama-sama menemukan senja kok, Si. Kamu harus berjanji. Kamu harus melihat senja setiap sore, dan aku pun akan begitu. Maka aku akan selalu ada di sampingmu, Si.”

"Apa di sana ada senja?"

"Bumi ini bulat, Si. Aku yakin ada."

"Apa mungkin rasanya sama, saat kita melihat senja itu?"

"Aku yakin begitu."

“Aqila, bumi ini tersusun dari lintang dan bujur. Setiap satuannya, membuat kita punya waktu yang berbeda karena letak.”

“Lalu kenapa, Si? Aku akan tetap merasakan hal yang sama. Sebuah waktu yang membuat kita akan tetap bersama. Segera, aku akan kembali menemuimu, Si. Ketika aku berpijak lagi di tanah yang sama denganmu ini. Karena ada setia yang kita bela dengan setulus-tulusnya kan?”

“”

Aqila melesat jauh. Di padang rumput dekat bandara bersama sepedaku, aku lihat pesawat yang semakin tinggi dan hilang dari kejapan mata ketika Aqila ada di dalamnya. Lalu bergumam, “Aqila, jangan lupakan senja yang sudah kita ciptakan bersama selama ini, dan panggil aku tetap sebagai Si… Untukmu.”

Aku masih memiliki Aqila. Hanya saja, aku tak tahu bagaimana kabarnya. Sesekali, aku menggunakan sambungan internet yang ada di kampus. Mencoba mencarinya. Tak pernah kutemukan akun yang benar-benar dirinya. Semakin aku mencari, semakin aku kehilangan dirinya. Satu hal yang aku tahu, ia memang orang yang begitu menjaga dirinya. Privasi bukan main dalam komunikasi, tapi ia tetap menjadi kekasihku. Ke manapun ia pergi. Aku harap bahwa ia tetap menemukan senja yang manis. Itulah apa yang kita percaya dalam setia ini.

“”

Aku lihat kembali senja di balik pegunungan sampah yang menghidupiku, bersama merpati-merpati yang terbang kian kemari. Jagung-jagung kutabur di hadapanku, merpati menari terus menari, memakan jagung-jagung, terkadang mereka terlihat berkelahi, ketika yang dipatuk adalah kepala saudaranya sendiri. Aku tak tahu, berapa jumlah merpati yang sudah kumiliki sejak beberapa tahun lalu.

Selanjutnya, kubaca lagi buku-buku yang belum selesai kubaca. Saat ini, dinasku naik pangkat. Aku menjadi pengepul, tak sama seperti dulu. Aku mampu membayari para pekerja, sebagaimana dulu aku pernah menjadi mereka. Ketika susah senang mencari kian kemari, plastik sampai kardus-kardusnya.

Aku tetap bersama senja, kesendirian, dan Aqila yang sama-sama menikmati senja di lain letak. Walau tanpa ayah dan bunda, aku berhasil hidup sampai saat ini. Besok aku wisuda. Bersama senja, aku lukis ayah dan bunda dengan merpati-merpatinya. Di surga, mereka yang kuhormati berada dan mungkin melihatku. Satu hal yang aku temukan, aku selalu berhasil melukiskan mereka dengan tersenyum dan membuatku juga tersenyum.

Sudah berbulan-bulan aku tak pernah kembali pada kebiasaanku dulu yang sering berpindah-pindah letak rumah. Sekarang, rumahku selalu tepat menghadap senja. Buku yang kumiliki sudah hampir seribu jumlahnya di dalam kamar, aku tak pernah sadar bagaimana bisa mengumpulkannya. Sembari menghadap senja, melihat ayah dan bunda di lain dimensi dengan senyuman mereka.

Bersama senja yang semakin hadir, di senja itu jualah, rinduku hadir pada Aqila. Kemudian, tak kusangka rindu mampu menarik senyumanku yang begitu menggelitik padanya. Aku harap, rambutnya masih sama pendeknya, seperti saat ia meninggalkanku waktu itu.

Telepon genggamku berbunyi, ada satu pesan masuk.


""

From: +810337738
26-04-2019, 04.34 PM

Yth. Sdr. Siha Kim Swastamita di tempat.


Saya mengingatkan pada undangan untuk saudara Siha Kim Swastamita untuk menjadi keynote speaker mengenai literasi di kampus utama Universitas di Indonesia untuk Minggu depan.


Semoga, saudara bersedia menceritakan senja, bukit sampai pegunungan, buku-buku, merpati dan lukisan-lukisan yang selalu anda ciptakan.


Tertanda:

Ketua Pegiat Literasi Indonesia-Jepang
Aqila Sekar Rembulan
Yang tak pernah kehilangan senjamu di negeri Sakura.

Semarang, 2019

Belum ada Komentar untuk "Bukit Senja"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel