Kampung Kelaparan


Televisi, radio, sampai internet masih asyik bertengkar. Suara protes di lapangan, dianggap panggung lawakan dan nilai percuma. Orang-orang mati makin tak terhitung jumlahnya, seusai berontak pada segala pengkhianatan kuasa. Adapun, keluarga yang hidup dengan kendi air sungai keruh, makan satu telor dadar pun dipecah per jumlah anggota keluarga, perlahan-lahan pergi ke surga dengan tanpa satupun berita di media.

Jauh dari pusat kota pertengkaran, ada sebuah kampung dengan hutan pinus yang mengelilinginya. Ada juga perbukitan di kampung ini, dipakai penduduknya untuk mencari sisa rumput, guna mengenyangkan para kambing di rumah. Para ayah asal kampung, sering juga berkumpul di puncak perbukitan, lalu menjamu senja yang hampir keemasan. Sekadar untuk melihat pabrik-pabrik berdiri, tepat di cakrawala mata mereka. Lalu bergosip ria tentang dunia luar kampung, sembari menikmati kopi yang dibawakan istri masing-masing setelah menggembala.

Seusai Ashar, anak-anak di perkampungan punya kebiasaan, bermain sepak bola. Di sebuah lapangan yang dibuatnya dari bekas tanah pesawahan tanpa masa panen. Sakit bukan main bila seorang anak terjatuh di lapangan. Sebab kerak keras tajam lapangan, amatlah pandai membuat luka di kulitnya.

Senja pun tiba, tanda bola perlu selesai dipermainkan. Anak-anak berjalan ke tepian lapangan, lengkap dengan bunyi suara perut yang saling terdengar. Suara yang sudah dimaklumi lima tahun ini, akibat panen yang tak kunjung tiba. Sedangkan, bahan makanan mahal harganya. Begitupun pasar jauh jaraknya, lengkap dengan ongkos bahan bakar tak karuan makin meninggi. Itulah ucapan para orang tua di kampungku.

"Udah makan, Man?" Tanyaku pada Herman, sahabatku.

"Bukannya anak-anak di kampung ini semuanya kelaparan?"

“Betul juga, tapi—”

"Gak perlu diulang pertanyaanmu tiap hari. Jawabannya sama saja tho?"

"Sampai kapan?"

"Sampai kau jadi Presiden."

"Kenapa harus jadi presiden, Man?”

"Tanya sama ayah ibumu, aslinya aku juga gak tahu tugas presiden itu apa. Ayahku yang bilang, kalau orang kampung kita amatlah perlu jadi presiden, biar gak kelaparan. Kau pantas jadi presiden, sebab kau yang rangking satu melulu di kelas. Nah, kau perlu buat kami tak kelaparan sebagai anak paling pintar di kampung ini."

"Aku mau jadi presiden." Kataku lugas.

"Tanyakan dulu pada ayah ibumu, aku dan kau saja tak tahu apa tugas presiden itu"

"Nanti kutanyakan sama ayah."

"Semoga ayahmu mau jawab, soalnya pas ayah kutanyakan hal yang sama. Ayah sibuk ke sawah yang tak pernah panen ini—”

"Dan sibuk motong rumput, buat kambing-kambing kurus di kampung ini juga kan?"

"Hahaha.",  Kami pun serentak tertawa pada nasib sendiri, di kampungku yang makin hari termaklumi.

“Oiya, Gun. Masihkah kau punya pensil?” Tanya Herman.

“Masih, bu guru kan kasih masing-masing dua pensil, untuk seluruh anak di kampung ini.”

“Pensilku sudah jadi kurcaci dua-duanya. Boleh kupinjam satu?”

“Boros sekali, kau pakai pensil itu.”

“Aku sibuk menggambar, Gun. Kau kan sibuk baca, nulis pun kau yang penting-penting saja, kan.”

“Ya sudah, besok aku bawa kalau ke lapangan.”

“Nah, sip.”

Herman merangkulku, membawa bola yang dipakai anak-anak sekampung bermain. Sebab, hari ini, jadwalnya untuk menyimpan bola di rumah. Esoknya, bola itu bergantian untuk disimpan oleh teman yang lain. Kami pun berpisah di persimpangan, menuju rumah masing-masing.

“”

Seusai senja, ayah tiba dengan kring-kring sepedanya. Suara lengkingan ayah pun selalu kudengar, saat ia menyapa tetangga sebelum memasuki rumah. Kali ini, aku sudah duduk di pinggiran tikar, tempat ibu menyiapkan makanan dan minuman.

"Gun, udah makan?" Ayah datang berlari lalu menggelitik pinggangku. Aku kegelian bukan main, tapi aku tetap tertawa.

"Tak usah digelitik terus anak sulung kita itu. Nanti tak suka makan dia. Sudah kurus, makan seadanya, kau gelitik juga pingganya, makin kuruslah dia.” Ibu menimpali perbincangan.

"Tenang saja, Bu. Guntur kan anak pintar, tak mempan kalau aku gelitik pinggangya." Ucap Ayah yang selalu memujiku di setiap waktu.

"Makan nasi telor dipecah bertiga. Apa sehat isi akalnya, Yah?" Jawab Ibu.

"Ayo Gun, katakan pada Ibumu yang kemarin kita omongin."

Aku pun berdiri, mengangkat tangan kanan dengan kepalan jemari paling meyakinkan, "Saya, Guntur Bumi Pratama, putera ayah Hasan Bisri dan ibu Sekar Puteri Pratiwi. Dengan ini menyatakan dengan setegas-tegasnya. Bahwa saya, akan berbuat kebaikan atas ridho-Nya, berbudi pekerti pada orang tua, bersungguh-sungguh dalam belajar, menjadikan negeri ini dipandang dunia dengan segala keberhasilannya, dan meyakinkan ibu untuk merestuiku dalam mewujudkan cita-citaku, sebagaimana yang sudah saya sebutkan barusan. Selesai."

Ibu memandangiku, begitupun ayah. Langkah berat kaki ibu mendekatiku. Jantungku berdebaran amat kencang. Ia pegang dua pundakku.  Sekejap, tubuhku hangat dalam pelukannya lalu berbisik, "Ibu bangga padamu, Gun. Kau harus terus belajar dan belajar, sampai negeri Cina." Kulihat ayah di sebelah kiriku, mengacungkan jempol dan tersenyum.

"Yaudah, mari kita nikmati nasi telor buatan ibu malam ini." Ucap ibu seusai menyapu air mata yang tak sadar keluar.

"Lahhh, telor lagi." Ucapku.

Kami bertiga serentak tertawa. Ibu menyajikan nasi lebih banyak di piringku. Berasnya dibawakan ayah dengan sepeda, dari balik hutan pinus dan perbukitan kampungku. Ayah tak mau kalah banyak. Hanya ibu yang selalu makan lebih sedikit. Sebab ibu terbiasa mual, bila makan terlalu banyak.

Di tengah-tengah hidangan malam. Tak sadar aku berucap, "aku mau jadi presiden, Yah, Bu."

Ayah dan Ibu terhenti seketika, saling bertatapan. Melihat keduanya keheranan, aku pun ketakutan. Sebab, aku sendiri tak tahu apa arti presiden yang sebenarnya. Hal yang kuketahui tentang presiden. Ialah orang yang bisa membuat seluruh penduduk kampungku tak lagi kelaparan, seperti kata Herman. Aku rasa, presiden adalah pilihan yang tepat untuk sebuah cita-cita. Sebab, aku tak pernah bisa menjawab cita-cita apa yang aku inginkan, sebagaimana yang bu guru tanyakan di kelas. Sekaligus, aku hanya ingin mendengar suara peluit di waktu senja. Tanda sepak bola perlu usai dipermainkan, tanpa suara perut teman-temanku.

“”

Lukisan dengan model pelukis Dullah yang menggenggam bendera merah putih, baru saja terlekat di dinding kamar, dibantu oleh anak-anak muda berbadan kekar. Lukisannya jauh lebih besar, dibuat oleh Herman, sahabatku di kampung, saat kini ia telah menetap di Valencia, Spanyol. Sebelum keberangkatannya ke Valencia, aku memintanya untuk melukis ulang poster Affandi, lengkap dengan kalimat tegas “Boeng, Ajo Boeng” buatan Chairil, penyair kesukaanku.

Herman sahabatku, sudah dikenal sebagai pelukis yang handal. Ia pun berangkat ke Valencia sebagai wujud harapan, mengenalkan lukisannya pada dunia. Sesekali kami saling bersapa, lewat pesan vidio yang menampakkan wajah masing-masing. Hanya saja, kami tetaplah jauh dalam jarak, sampai kami temukan cara agar lebih dekat. Dengan poster buatan Affandi, pelukis kesukaannya, dan kalimat Chairil di dalamnya, penyair kesukaanku. Adapun, buku puisi-puisi yang sempat kuterbitkan disimpannya, agar jauh jarak tetap melekatkan kami sebagai sahabat di kamar masing-masing.

Ayah ibu telah kenyang hidup penderitaan di kampung kelaparan. Ia menitipkanku pesan untuk selalu belajar, bahkan sampai negeri Cina. Namun, segala nasib di kampung, tetap membawanya pergi ke surga. Aku dan Herman pun menggembala ke luar kampung, tanpa membawa seekor kambing. Dititipkan oleh Kepala Desa Kampung Kelaparan, pada guru honorer yang rela keluar-masuk kampung setiap dua minggu sekali, agar kami dapat merasakan kenyangnya belajar.

Di luar kampung, kami pun bekerja kuli panggul untuk toko-toko, buruh tani, dan sebagainya guna mencukupi penghidupan. Hanya saja, kuingkari pesan ayah ibu untuk pergi belajar ke Cina. Sebab, beasiswa seusai SMA mengirimku belajar ke London untuk belajar Pembangunan Negara dan Herman ke Jerman untuk seni lukisnya. Kami pun mulai berpisah dalam jarak sebagai sepasang sahabat, bahkan sampai menemukan pasangan hidup masing-masing.

Air mata tak kusadari mengalir. Lalu, kurasakan hangat tubuh di punggungku dalam sebuah pelukan. Sepasang tangannya mengikat perutku, wajahnya pun muncul di atas pundak kanan, “Apa kau sedang mengingat ayah, ibu, dan sahabatmu itu, Mas?”

“Tak ada ingatan lain, bila kutatap lukisan ini, Adelia.”

“Bersabar, Mas. Ridho-Nya yang sering kau katakan dalam riwayatmu di kampung, sudah mengantarkanmu sampai tahap ini.”

“Aku tak tahu kenapa ini harus terjadi—”

“Dan bila Ridho-Nya terjadi, maka terjadilah kau di dalam riwayat barumu ini.”

“Terimakasih, sayang. Sudah menanamkanku benih kepercayaan sebagai pendamping hidupmu. Sampai kau rela tinggalkan negeri Yordania, tempatmu belajar yang sedang kau tempuh kala itu.”

“Semua ada pilihan, Mas. Aku memilihmu, sebab kau punya riwayat yang baik, untuk diceritakan pada berbagai negara dan anak-cucu kelak. Riwayat yang sudah meyakinkan, bahwa kau punya tanggungjawab—”

“Belum selesai tanggungjawabku padamu, sayang. Kenapa pun Ridho-Nya mengantarkanku pada tanggungjawab lain.”

Adelia mengencangkan pelukannya. Kurekatkan jemariku dalam jemarinya, hangatnya menenteramkan hati yang gundah gulana di dalam kamar paling terjaga. Dengan jendela anti peluru, ruangan paling sejuk, dan atap-meninggi sebagaimana istana.

Ketukan tiba-tiba muncul dari arah luar kamar. Adelia membukanya, sang jenderal di muka kamar mengabarkan bahwa semua telah siap. Ditutupnya kembali pintu itu, ia kencangkan dasi yang melekat di leherku. Lalu, dering ponsel dengan tampilan amat lebar berbunyi, aku buka pesan singkat yang tak mampu menahan air mata.

Herman mengirimkan pesan singkatnya, nun jauh dari Valencia:

“Sahabatku, Guntur Bumi Pratama, mohonkanlah maaf atas tak kedatanganku dalam satu riwayat baru yang hendak kau emban beberapa jam ke depan. Kini, kau tak hanya punya tanggungjawab untuk menghilangkan Kampung Kelaparan kita itu, tempat kita dilahirkan, tumbuh bersama, bermain sepak bola sebelum senja dan pulang pada ayah ibu masing-masing. Sebab, kau bertanggungjawab untuk mengenyangkan seluruh penduduk kampung di negeri kita berasal. Agar anak-anak di seluruh negeri kita, pandai dalam sepakbola tanpa suara perut yang nakal, pandai juga dalam belajar, dan agar ayah-ibu di negeri kita punya pasar yang dekat untuk mengantarkan hasil panennya. Selamat untuk pelantikanmu hari ini, Pak Presiden Guntur. Sahabatmu, selalu ada di dekatmu, di lukisan yang selalu kau lihat seksama setiap harinya.”

Air mata berkelok turun melalui pipi, dan jatuh ke lantai paling mengkilap. Kulihat wajah Adelia yang tersenyum amat jelita. Kupeluk tubuhnya seketika, lengkap dengan ciuman di tepat kening dan jatuh ke bibirnya.

Adelia menggandeng tanganku, dibukakannya pintu kamar, aku pun berjalan ke luar rumah megah ini, menuju pelantikan yang diridhoi-Nya dan lengkap atas restu ayah-ibu di surga, guna menghilangkan seluruh Kampung Kelaparan di negeriku.

Semarang, 2020.

Belum ada Komentar untuk "Kampung Kelaparan"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel