Kepada Eka Kurniawan yang Menemukan Lelaki Harimau

oleh Abdul hakim | 17 April 2020.


Gambar

Beberapa minggu, setelah pemerintah meliburkan sekolah, kantor-kantor, dan himbauan jaga jarak akibat Covid-19. Alhasil, waktu perlu diisi dengan kegiatan #dirumahaja atau #diindekosaja bagi yang masih di kota.

Hari-hari untuk #dirumahaja membuat saya melihat seratus buku yang ada di dalam kamar. Buku yang saya beli sejak semester awal berkuliah. Beberapa, naas belum tuntas saya baca, lembarannya pun mulai menguning, menandakan umurnya yang mulai rapuh.

Lelaki Harimau menjadi pilihan untuk saya baca. Penulisnya, Eka Kurniawan, baru saya kenal beberapa tahun yang lalu. Sewaktu saya berbelanja ke Gramedia, buku berjudul “O” menjadi latar belakang kasir Gramedia. Buku yang telah diterjemahkan ke banyak bahasa.

Saya pun mulai mencari tentang karya Eka yang lain. Kemudian hati saya mulai tersemat pada karya Eka berjudul Lelaki Harimau. Begitupun, saat novel ini masuk menjadi nominasi panjang penghargaan The Man Booker International Prize.

Kalimat pertamanya membuat saya tertarik, saat Margio melakukan tragedi pembunuhan. Kemudian, kalimat selanjutnya, Eka mengarahkan saya pada suasana yang lain. Ketika Kyai Jahro tengah masyuk dengan ikan-ikannya di kolam.

Dari dua kalimat itulah, rasanya Eka memang akan mengajak saya sebagai pembaca untuk berpetualang pada nuansa yang berbeda. Saya diajak untuk melihat nuansa masa kini sekaligus nuansa asalinya.

Ketika tragedi pembunuhan itu diceritakan, Margio dengan seksama menyatakan bahwa bukan dirinyalah yang melakukan. Melainkan, seekor harimau yang keluar dari tubuhnya. Margio tak mampu menahan Harimau itu, seperti saat ingin ke luar memakan ayahnya.

Eka pun mengajak saya untuk mengenali satu sama lain kehidupan tokohnya, dengan alur yang amat berbeda. Alur yang tak saya sadari, sampai saya bertanya, “Kenapa saya tiba-tiba di tempat ini.”

Kehidupan keluarga Margio inilah yang menjadi pusatnya. Ayahnya, Komar bin Syueb, seorang tukang cukur. Nuraeni, ibunya, dan Mameh, adiknya. Lalu, ada Marian, adiknya lagi yang membawa tragedi baru.

Sebelum Komar dan Nuraeni menjadi sepasang suami-istri. Getar-kasih dan sayang mereka saling hadir dalam pertemuan. Tapi, Nuraeni pun tetap memiliki kisah patah hati pertamanya. Bahkan, sampai keduanya menikah, patah hati itu tak pernah diungkapkan Nuraeni pada Komar.

Keluarga itu pun terbentuk, Margio dan Mameh lahir. Lalu, saya dibawa pada keintiman sebuah keluarga yang pada banyak waktu seolah tidak saling terhubung.

Selain kisah tentang keluarga dan kehidupan masyarakat yang seolah hadir di dekat kita. Saya pun dikenalkan pada kisah cinta yang berbagai macam rasanya. Mulai dari yang saling bergetar, tanpa-jarak, perempuan yang mengungkapkan cintanya, dan lainnya. Saya pun diajak pada kisah cinta yang tak semestinya, perlu penolakan, dan tragedi yang bisa saja hadir di dalam kelas sosial lingkungan saya.

Bagaimanapun, Margio menyadari ada Harimau di dalam tubuhnya. Pada satu waktu, Margio memang bisa menahan harimau itu keluar. Tapi, pada waktu yang lain, Harimau itu tetap keluar, hanya dengan dua kalimat saja.

Kepada Eka Kurniawan yang Menemukan Lelaki Harimau. Terimakasih sudah mengajak saya berpetualang dalam novelmu.



Belum ada Komentar untuk "Kepada Eka Kurniawan yang Menemukan Lelaki Harimau"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel