Tolkien Legendarium Adalah Kisah Sederhana, Tapi Mengapa Saya Menyebutnya Rumit?

Ditulis oleh Najmul Ula.

ilustrasi-artikel

Saya punya kebiasaan menyelami satu semesta baru tiap tahunnya. Robert Langdon, Sherlock Holmes, Percy Jackson, Harry Potter, beberapa lainnya, dan tahun lalu A Song of Ice and Fire. Tidak banyak memang. Dan sekarang saya sudah banyak lupa dengan detail cerita semesta-semesta tadi.

Tahun ini, masa berdiam di rumah, semestinya saya juga mengenal semesta baru. Sewaktu pulang ke rumah (benar, saya mudik), saya teringat memiliki buku pertama The Lord of The Rings, The Fellowship of The Ring. Buku itu saya beli saat mahasiswa baru, sepertinya. Karena bekas, harganya tentu murah dan sesuai dengan kantong saat itu.

Jadilah saya memutuskan melengkapi koleksi semesta JRR Tolkien. Dimulai dari The Hobbit (buku prekuel), buku bekas juga. Lalu buku ketiga The Return of The King, buku baru yang didiskon sampai Rp21 ribu. Untuk buku kedua, The Two Towers, karena saya tidak menemukan buku diskon/buku bekas, jadilah saya mengunduh epub gratisan.

***

Saya sempat mengatakan bahwa A Song of Ice and Fire karya George RR Martin—pembaca mungkin lebih familiar dengan adaptasi televisinya, Game of Thrones- sebagai karya fiksi dengan semesta terluas yang pernah saya baca. Setelah membaca seri The Lord of The Rings, saya tetap mempertahankan anggapan itu, walau JRR Tolkien memiliki kompleksitas yang lebih rumit.

Maksud saya, The Known World-nya George RR Martin memang sangat luas, dan Middle Earth-nya JRR Tolkien terlihat cuma mencakup wilayah seukuran benua Eropa. Namun saya sangat bisa memahami alur sejarah di A Song of Ice and Fire karena dunia tersebut sepenuhnya hanya memiliki karakter manusia, mayoritas diceritakan dengan bahasa umum (common tongue). Kalaupun ada bahasa minor, seperti bahasa dothraki atau bahasa valyria, semuanya tak sampai membikin saya pusing.

Sedangkan ketika memasuki semesta The Lord of The Rings—orang-orang menyebutnya Tolkien Legendarium, kita paling tidak akan bertemu empat makhluk, yaitu manusia, kurcaci, peri, dan hobbit itu sendiri. Itu belum termasuk makhluk berbicara lain seperti orc, ent, goblin, dan bahkan hewan-hewan di novel prekuel The Hobbit pun bisa berbicara. Lingua franca yang digunakan di sana adalah bahasa Westron, tetapi masing-masing jenis makhluk mempunyai bahasa tersendiri.

Tentu saja, kompleksitas latar belakang di Tolkien Legendarium yang melibatkan banyak makhluk membuat pembaca dengan pikiran rusak seperti saya tak bisa dikatakan “khatam”. Bayangkan saja, untuk menyebut nama tempat saja, masing-masing ada penyebutan untuk bahasa manusia, bahasa kurcaci, dan bahasa peri. Itu belum termasuk sejarah masing-masing makhluk yang bila dirunut bisa mencapai ribuan tahun sebelum kejadian di buku. Kekayaan bahasa seperti itu jelas berasal dari JRR Tolkien sendiri yang merupakan seorang profesor linguistik di Oxford University.

Sepertinya saya harus membaca puluhan kali agar bisa sepenuhnya memahami sepenuhnya Tolkien Legendarium. Saya perlu meniru aktor pemeran Saruman, Sir Christopher Lee, yang diketahui membaca The Lord of The Rings setahun sekali sampai ia meninggal di usia 93 tahun pada 2015. Selain itu, buku tambahan di semesta JRR Tolkien juga ada beberapa, seperti The Silmarillion atau The Unfinished Tales, yang belum saya baca.

***

Melalui The Hobbit, JRR Tolkien mengenalkan pada dunia tentang makhluk hobbit. Pendek, hidup di lubang di tanah, kaki dengan kulit tebal dan berambut, dan sangat doyan makan. Di Middle Earth, kaum hobbit mendiami wilayah bernama The Shire, yang tenang dan bersahaja.

Bilbo Baggins merupakan seorang hobbit terpandang, yang dipilih penyihir Gandalf The Grey untuk menjalani misi bersama 13 kurcaci. Kaum kurcaci ingin merebut harta mereka yang tertimbun di Gunung Sunyi, dijaga oleh naga jahat bernama Smaug.

The Hobbit terbit pada 1937, diceritakan dengan jenaka, karena sasaran Tolkien adalah pembaca anak-anak. Karena laku di pasaran, pihak penerbit meminta Tolkien untuk membuat cerita lanjutan. Tolkien menyanggupi. Sekitar satu dekade ia menggodok sebuah cerita mengenai cincin yang ditemukan Bilbo Baggins di gua tempat tinggal Gollum.

Jadilah serial The Lord of The Rings terbit pada 1954. Tak ada lagi nada jenaka. Middle-earth kini dinaungi kegelapan, kekuatan sangat jahat sedang membangun pasukan di Timur. Nyaris seperti cerita thriller, masing-masing karakter protagonis berpacu dengan waktu untuk mencegah musuh berkuasa.

Kepopuleran The Lord of The Rings diangkat Peter Jackson ke layar lebar, dan meraup sukses besar. Trilogi film yang dibintangi Elijah Wood dan Viggo Mortensen tak hanya laris di pasaran, melainkan juga disukai kritikus. Dan juga, trilogi yang bila digabungkan hampir berdurasi setengah hari tersebut dinominasikan dalam 30 kategori Academy Awards, terbanyak sepanjang sejarah perfilman Hollywood.

***

Saya mengakui bahwa Tolkien Legendarium adalah kisah luar biasa, dipengaruhi berbagai mitologi yang diramu menjadi sebuah semesta yang lebih luas daripada yang pernah dibayangkan para novelis. Akan tetapi, sekali lagi, karena saya baru membaca serial A Song of Ice and Fire—dan saya baru membaca tiga buku pertama- yang punya banyak karakter berlainan kepentingan, maka The Lord of The Rings akan terlihat sebagai kisah sederhana.

Di The Lord of The Rings, Hanya ada dua sisi, yaitu si baik dan si jahat. Hanya ada dua tempat, yakni tempat aman dan tidak aman. Biarpun akan ada berbagai konflik, pengorbanan, serta satu-dua kehilangan, kita akan tahu kebaikan akan menang.

Bagi pembaca perempuan yang ingin menyaksikan gendernya terepresentasi sebanyak mungkin dalam seluruh kehidupan, Tolkien Legendarium bukan pilihan terbaik. Hanya ada tiga karakter perempuan, itu pun bukan karakter utama, yaitu Arwen Undomiel, Lady Galadriel, dan Eowyn putri Eomund. Pemeran Arwen, Liv Tyler, sampai sumringah saat Miranda Otto datang ke lokasi shooting The Lord of The Rings karena tak ada karakter perempuan lain. Meski begitu, karakter Eowyn terlihat sebagai upaya kuat Tolkien untuk menyampaikan pesan mengenai apa yang sekarang digalakkan para aktivis perempuan.

Saya belum puas, saya belum sepenuhnya memahami Tolkien Legendarium sampai akar-akarnya. Mungkin saya akan membaca ulang.



Najmul Ula.
Sombong seperti Lannister, makan seperti Hobbit.


Tidak ada komentar untuk "Tolkien Legendarium Adalah Kisah Sederhana, Tapi Mengapa Saya Menyebutnya Rumit?"