Halaman

Racun Imaji

ilustrasi-artikel

Menjelang malam, saat merpati kembali pada sangkarnya. Mey menerima tamparan ketujuh di wajahnya. Sedikit demi sedikit, sudut mulutnya mengelupas, bercak merah pun hadir.

Urat tangan lelaki paruh baya itu terlihat lebih kuat setelah menamparnya. Dadanya bidang menonjol di dalam kaos abu-abu yang ia pakai. Begitupun, otot lengannya lebih besar dari lubang lengan kaos miliknya.

Lelaki itu kemudian pergi, meninggalkan jejak bunyi pintu yang ditutup dengan kencang. Mey tak tahu, ke mana lelaki paruh baya itu pergi setelah setiap tamparan menjelang malam.

Setidaknya, lelaki paruh baya itu akan pergi selama dua malam. Lalu datang tiba-tiba menjelang fajar, mengoceh banyak hal, tidur dan pada siang harinya, tamparan itu akan muncul di pipinya. Bila ia bosan dengan tamparan, sabetan sabuk, rotan, atau apapun benda yang di dekatnya. Ia jadikan alat untuk membuat Mey terbunuh perlahan-lahan.

Mey meringkuk di samping meja makan, ada banyak rasa yang tak mampu terucap. Mey terkadang menyalahkan ibu yang tiba-tiba pergi. Pergi dengan lekat doa tetangga, terbenam di dalam tanah, dan entah menetap di mana.

Di antara bunyi gerimis, ada suara sepasang sandal yang bergesekan dengan lantai luar rumahnya. Pertanyaan pun timbul di kepala Mey, "Apa ayah belum puas dengan kekesalannya? Kenapa ia pulang lagi?".

Gagang pintu bergerak, lalu pintu berderit dan terbuka. Mey membenamkan kepalanya di antara tangan yang merangkul kakinya sendiri. Tubuhnya gemetar, hilang akal, dan tak dapat disebut satupun doa.

"Mey...", Ucap seseorang dengan lembut.

Mey angkat wajah, terlihat samar seorang lelaki di balik bercak air matanya. Gemetar tubuhnya mendekat dan masuk dalam pelukan seorang lelaki muda. Lelaki yang muda ini, amatlah berbeda sikapnya dengan lelaki yang Mey sebut sebagai ayah, si paruh baya itu.

"Kau harus pergi, Mey. Aku tak bisa melihatmu seperti ini terus."

"Mas, aku tak bisa pergi, semakin aku menjauhinya, semakin banyak luka yang akan ia kirimkan bila menemuiku, kau tahu sendiri kan."

"Kau tak akan pergi sendiri, tapi kita berdua yang pergi."

"Aku tak bisa, Mas. Sebaiknya kau yang pergi, atau ayah dan kawan-kawannya yang akan membunuhmu, bila ia melihatmu di sini."

"Berapa banyak sakit lagi yang akan kauterima di rumah ini? Rumah ini adalah neraka bagimu."

"Sudah cukup, Mas. Bawa aku ke kamar saja. Seperti yang biasa kaulakukan, dan lekaslah pergi. Aku hanya butuh tidur, luka pun bisa sembuh esok pagi."

“Aku akan memberinya peringatan, Mey. Aku tak bisa menyebutnya manusia dengan segala yang ia lakukan padamu.”

“Peringatan apa yang bisa kaulakukan? Kau bahkan yang akan terbunuh bila melawannya. Kau tahu persis siapa lelaki itu.”

“Setidaknya, aku akan melawan. Kalau kau tak bisa pergi dari rumah neraka ini. Aku yang akan membuatnya pergi dari dunia. Sekalipun itu akan membuatku pergi juga dari dunia ini.”

“Bila kau nekad, kau sama saja sepertinya. Hanya punya otot dan tak punya kepala.”

“Mey…”

“Sudah, Mas.”

“”

Lelaki yang muda itu mengangkat tubuh Mey ke atas ranjang. Lelaki itu merapikan rambut Mey yang berantakan, keningnya menerima ciuman manis setelah luka. Namun, di dalam kening Mey, ada banyak rencana untuk menyingkirkan ayah dari dunia ini.

"Mey, dia bukan ayahmu, percaya Mey." Lelaki muda itu semakin mendesaknya.

"Aku sudah bersamanya sejak kecil, Mas. Ia hanya kehilangan akal karena ibu tiada. Dia baik sebenarnya dan kehilangan membuatnya tak kendali."

"Ibumu sudah pergi sejak lima tahun lalu—"

"Mas, kehilangan seseorang yang ia cintai butuh waktu lama untuk sembuh—"

"Mey, sadarlah, aku tahu kau tak tahan dengan sikapnya, dia bukan ayahmu—"

"Lelaki ke berapa yang memang ayahku? Hanya dia yang mau menikahi ibuku. Sebaiknya, kau pergi, Mas."

"Mey,—"

"Pergi, Mas."

Mey palingkan tubuhnya membelakangi lelaki muda itu. Mulutnya terjeda, sejenak mereka saling terdiam, dan tangan lembut lelaki muda itu mengusap rambutnya. Begitupun, ada ciuman manis lagi di atas rambutnya. Sedangkan, di balik akar rambut itu, rencana untuk menyingkirkan ayah semakin memuncaki perasaan Mey. Lelaki muda itu kemudian meninggalkan Mey. Dengan jejak bunyi sandal yang terseret. Semakin menjauh dan lenyaplah suara itu di lengkap malam.

Sepasang mata Mey mulai terpejam, rencana untuk menyingkirkan ayah semakin menggila di dalam kepalanya. Mata terpejam hanyalah racun imaji yang menghancurkan isi kepalanya. Ia pun membuka paksa sepasang matanya dan ingin keluar dari ide gila itu.

Seharusnya, Mey bersyukur, bahwa ada seorang lelaki yang menikahi ibunya. Dibandingkan para lelaki yang pulang pergi mendekati ibu, seperti yang sering diucap si ayah itu. Ayah pun mencintai ibunya dengan begitu tiada berkira. Mey pun disayang dan dimanja oleh ayah sewaktu ibunya masih ada.

"Ayah hanya sedang hilang akal akibat kehilangan ibu", hatinya berbunyi.

Sepasang matanya mulai berat kantuk. Lalu perlahan terpejam, dan rencana untuk menyingkirkan ayah kembali hadir. Mey pun semakin membeci sepasang mata yang terpejam ini.

“”

Bila di sebuah fajar, ayah pulang ke rumah. Lalu memaki Mey dan kemudian tertidur di ranjangnya. Mey akan menghadirkan neraka di ranjang ayahnya dan cahaya merah akan mengelupaskan kulit si ayah. Sebagaimana rencana di kepala Mey yang telah lama hadir.

Korek api dan minyak yang mudah terbakar itu sudah sejak lama Mey persiapkan. Hanya tak ada keberanian di dalam hatinya. Sedangkan, begitu banyak luapan di dalam kepala Mey.

Kepalanya berucap untuk membakarnya, sedangkan hati bersenandung kesabaran untuk memaafkannya.

Namun, ada bunyi lelaki muda itu yang mulai merasuk ke dalam tubuhnya. Bahwa rumah ini adalah neraka untuknya. Mey pun tersenyum mengingat ucapan lelaki muda itu. Ciumannya akan selalu ia ingat, begitupun dengan tamparan seorang ayah yang sedang keluar rumah dan keluar akal.

“”

Pada malam dengan tamparan ayah ke tujuh di wajah Mey. Mey akan membangunkan merpati-merpati yang tertidur di sangkar masing-masing. Dengan api yang ia ciptakan di sekeliling tubuhnya, bukan lagi tubuh ayahnya. Lalu melengkapi rumah ini dengan api neraka buatannya sendiri.

Merpati-merpatipun mulai hilir mudik saat melihat neraka di rumah Mey. Mey berharap, seekor merpati dapat menyampaikan berita api buatannya pada ayah. Seekor lagi dapat menyampaikan ucapan terimakasihnya pada ciuman si lelaki muda. Begitupun, ia harap ada banyak merpati yang mengantarkan tubuh Mey pada ibu ke jauh sana.


Kota Semarang, 2020

Tidak ada komentar:

Posting Komentar