Belum Hadir Pasangan

Ilustrasi artikel berjudul Belum Hadir Pasangan.

Berita pernikahan pada seminggu terakhir ini banyak yang muncul. Terlihat dari status yang dibagikan oleh teman-teman, baik di WA, Instagram, Facebook, dan medsos lainnya.

Hari Rabu ini pada 12 Agustus 2020, teman saya yang sering dipanggil Syeh, melakukan akad di Kabupaten Batang. Doa-doa pun saling bersahutan di antara kami teman-temannya. Sebab, jodoh sudah bertemu, dan komitmen tidak hadir hanya sebagai puisi atau fiksi, melainkan akad pernikahan.

Beberapa teman yang memiliki pasangan, terkadang memantik pasangannya, agar segera dipinang, menyusul menjelma akad, dan hidup bersama sebagai kesetiaan untuk menua bersama.

Cerita atau berita tentang sepasang manusia, mudah saya dapat, sebab medsos menghadirkan jejak kata, jejak keinginan, dan jejak harapan agar pinangan muncul dari pasangan.

Lalu, bagaimana dengan saya?

Sampai hari ini, saya belum menemukan dambaan hati. Belum ada teman berbincang tentang komitmen dan kesetiaan. Sebab, saya belum mencarinya.

Alam atas sadar atau pikiran, masih ingin lekat dengan dunia literasi. Terkadang dunia fiksi, puisi, dan jurnalisme. Begitupun, alam bawah sadar atau hati, saya arahkan untuk tiba pada personal yang lebih produktif di bidang yang saya minati.

Sekalipun, saya tahu, bahwa pandemi telah membangkrutkan banyak jenis usaha. Namun, ini adalah momen untuk membuat sesuatu yang baru dengan memanfaatkan yang sudah ada. Begitupun dengan belajar dari petunjuk para tokoh.

Lalu, bagaimana dengan pasangan?

Keinginan pasti ada, tapi saya membuat aliran di dalam alam bawah sadar saya terkait ini. Agar saya mengerjakan apa yang saya cintai, bersama orang-orang yang saya cintai, dengan ridho-Nya, dan hasil yang tak berhingga.

Ketika berita pernikahan banyak muncul, baik dari teman, status medsos, bahkan pasangan yang trending di youtube.

Setiap Minggu, saya yang memiliki tugas untuk membaca beberapa artikel dari salah satu komunitas blogger Indonesia.

Ada salah satu artikel yang menarik perhatian saya. Sebuah artikel yang diakhiri dengan cerita Nabi Yusuf AS dan Zulaikha. Bahwa jodoh, pasti bertemu, tergantung pada ketaatan kita pada Sang Pencipta.

Saya pun mulai mengoreksi secara personal. Apa yang baik dan buruknya. Bagaimana cara pandang pikiran dan hati saya terhadap banyak hal.

Mungkin, pikiran terlalu sering memandang hal yang teknis. Sampai ada beban, penyakit menunda, bahkan pemborosan yang tak berguna atau tak produktif.

Bahan bacaan bahkan video, saya arahkan pada konten yang bisa membangun produktivitas. Agar alam bawah sadar atau hati selalu mengarah pada produktivitas.

Sebab, hati memiliki peranan yang penting dari berbagai tindakan yang kita pilih dan lakukan.

Semisal, pikiran mengarahkan untuk segera membangun produktivitas. Namun, bila hati belum banyak terlatih terkait produktivitas, maka penundaan dan penundaan bisa lebih besar memengaruhi tindakan kita. Setidaknya, hal itulah yang saya dapat setelah membaca dan menonton konten terkait produktivitas.

Termasuk dengan jodoh atau setidaknya pasangan yang belum didekatkan-Nya. Pikiran boleh saja menginginkan seseorang segera hadir, tapi hati jangan-jangan belum lekat dengan doa dan segala kebaikan yang sesuai dengan calon pasangan. Yang sebenarnya sudah dipersiapkan oleh-Nya.

Saya pun teringat pada sebuah buku di kamar saya. Buku berwarna kuning dengan hardcover. Ditulis oleh Aid al-Qarni yakni, “La Tahzan: Jangan Bersedih!”.

Terutama dan paling utama, “JANGAN MENGELUH”.

Abdul Hakim
Abdul Hakim Seorang pembelajar politik lingkungan yang juga menyukai fiksi, puisi, dan kopi.

Tidak ada komentar untuk "Belum Hadir Pasangan"