Membaca Petunjuk Tokoh

Gambar Arttikel Membaca Petunjuk Tokoh


Berapa banyak di antara kita yang ingin menjadi penulis? Dengan kalimat-kalimat yang sadar atau tak sadar terucap, bahwa saya ingin menjadi penulis, pengarang, bahkan wartawan.

Apakah pertanyaan itu muncul dari Anda? Lalu Anda sampaikan pada teman-teman, keluarga, bahkan pada publik di medsos masing-masing.

Setiap pertanyaan yang berkhas keinginan untuk menjadi penulis memang begitu banyak. Salah satunya, mungkin Anda yang tersesat pada blog ini.

Namun, perlu ada pertanyaan pembanding yang amat personal pada saya dan mungkin Anda yang ingin menjadi penulis. “Yakin nih jadi penulis? Seberapa sering menulis? Seberapa banyak membaca?”

Salah satu pernyataan yang bisa saya ambil maknanya adalah jawaban dari Abah Dahlan Iskan. Seorang yang berpengalaman di bidang kepenulisan. Begitupun, beliau kini dikenal dengan blognya yakni Disway.

Bahkan, di masa pandemi ini, beliau meluncurkan Harian Disway, sebuah media yang tidak boleh disebut sebagai koran.

"Badan boleh dikurung --selama pandemi Covid-19. Tapi pikiran tidak bisa dibatasi. Ide tidak bisa dikekang. Terbitan Harian DI's Way ini adalah hasil lock down selama pandemi."
Dahlan Iskan

Beliau sebagai salah satu tokoh jurnalistik di negeri ini, setidaknya perlu untuk kita pelajari dalam dunia kepenulisan. Sebab, setiap tokoh yang berhasil di bidangnya masing-masing, selalu memberi petunjuk agar kita dapat dengan mudah belajar, tetapi dengan penuh kedisiplinan.

Ehh, maksudnya petunjuk apaan nih?

Saya adalah salah satu orang yang dulu banyak gak sadar. Bahwa setiap tokoh memberi petunjuk untuk kita belajar. Yakni, baik dari buku yang menuliskan seorang tokoh, podcast yang berbicara tentang tokoh, ungkapan-ungkapan yang diberikan tokoh, dsb.

Gini ni maksudnya. Abah Dahlan Iskan kan sudah memiliki jam terbang yang tinggi dalam dunia jurnalistik. Salah satu petunjuk yang beliau berikan yaitu konten blognya yang ditulis setiap hari.

Coba kita kenali petunjuk dari blognya, bahwa kalau kita mau jadi salah satu tokoh dalam dunia jurnalistik. Setidaknya kita perlu belajar untuk menulis setiap hari. Bahkan, Abah Dahlan Iskan menerbitkan postingan blognya setiap pagi, tidak pada waktu yang lain.

Lalu, petunjuk kedua, bahwa blog yang ditulis oleh Abah Dahlan Iskan adalah blog yang kontennya disesuaikan dengan perkembangan zaman.

Abah Dahlan Iskan yang telah berpengalaman bertahun-tahun dalam dunia jurnalistik. Merangkum segala pengalamannya di blog. Tentang menulis setiap hari, menyesuaikan zaman, dan memiliki waktu terbitan yang khusus.

Bayangkan, pengalaman bertahun-tahun, disampaikan beliau dengan memberi kita petunjuk dalam sebuah blog.

Ada juga yang lain, beliau memberi kita petunjuk dengan youtube yang beliau buat. Pengalaman beliau disampaikan dengan terang-terangan. Bagaimana cara beliau berbicara, bertanya, dan menarik sebuah permasalahan yang berkembang.

Misal, saat beliau ditanya, mengapa di dunia yang serba digital ini, Abah Dahlan Iskan menerbitkan konten blog di pagi hari, padahal beliau bisa menerbitkan pada waktu yang bebas, sebab ini bukan koran.

Beliau pun menjawab, bahwa bila beliau mau menulis, beliau akan berkomitmen untuk menulis dengan pilihan waktu yang sesuai dengan alam bawah sadarnya yakni hati.

Kalau komitmen untuk menulis itu muncul di kepala dan alam bawah sadar atau hatinya merestui. Maka menulis konten blog setiap hari bisa menjadi kebiasaan. Bahkan, kualitas tulisan yang enak dibaca dan mengalir bisa terwujud.

Satu kata yang menjadi garis besar tentang mewujudkan kebiasaan adalah komitmen. Bahwa, bila Abah Dahlan Iskan ingin menulis setiap hari, maka hatinya perlu dilatih untuk mewujudkan komitmen itu. Hanya saja, kita tahu, bahwa hati Abah Dahlan Iskan tentang menulis memang sudah terlatih selama bertahun-tahun.

Maka, Abah Dahlan Iskan memberi kita petunjuk untuk belajar tentang komitmen tersebut.

Lalu, apa yang menjadi modal untuk belajar memahami alam bawah sadar itu dari tokoh-tokoh yang berpengalaman?

Tentu saja dengan membaca.

Dengan membaca, kita merangkum pengalaman bertahun-tahun seorang tokoh hanya dalam sebuah buku, blog, bahkan artikel. Sekalipun ada podcast di youtube atau platform lain yang menyampaikan pengalaman seorang tokoh.

Cara membuktikannya, tentu saja dengan membaca karyanya, biografinya, artikel-artikel tentang tokoh, dan begitu banyak bahan bacaan di dunia digital ini.

Baca saja, bagaimana ide gila Elon Musk agar manusia bisa hidup di Mars. Ia bekerja antara 80-100 jam setiap minggu untuk membuktikannya. Bahkan, ia adalah salah satu pembaca yang cukup berat.

Ada juga pembaca berat lainnya, seperti Gus Dur, Warren Buffett, Bung Hatta, dan sebagainya.

Tokoh-tokoh tersebut telah belajar untuk memahami petunjuk dari tokoh yang mereka kagumi dengan membaca. Lalu menghasilkan daya kreatif dengan karyanya masing-masing.

Jadi, buat-buat teman-teman yang telah berkesempatan atau setidaknya tersesat pada artikel ini. Mari kita belajar untuk terus membaca dan memahami petunjuk yang diberikan para tokoh yang kita kagumi di bidang masing-masing. Lalu, alam bawah sadar atau hati kita merestui untuk mewujudkan komitmen itu.


Abdul Hakim
Abdul Hakim Seorang pembelajar politik lingkungan yang juga menyukai fiksi, puisi, dan kopi.

Tidak ada komentar untuk "Membaca Petunjuk Tokoh"