Tentang Seorang Perempuan

Gambar Artikel Tentang Seorang Perempuan

Ada seorang perempuan yang tiba-tiba hadir di kepala saya. Sudah lama saling tahu, tapi kami tak punya banyak percakapan untuk saling mengenal lebih dekat.

Bahkan, mungkin dapat terhitung jari, jumlah percakapan di antara kami.

Lebih tepatnya, saya tak punya keberanian untuk bercakap dengannya. Sebab ia selalu terlihat cuek dan jarang mau bicara dengan selain sahabatnya.

Namun, bila ia sudah tersenyum. Saya pastikan bahwa senyuman yang ia miliki adalah salah satu anugerah yang indah.

Awalnya saya takut bila percakapan itu dimulai. Namun, Tuhan menakdirkan saya untuk sesekali memiliki keberanian dan mulai bercakap dengannya.

Naas, tidak sesuai ekspektasi, percakapan yang saya kira kaku dan formal. Ternyata, ia punya gaya percakapan yang cukup lentur dan mengalir.

Cukup mengasyikan untuk percakapan awal. Begitupun, ada perasaan ingin kembali pada percakapan berikutnya.

Saya yang masih sendiri alias belum punya dambaan hati. Cukup tergetar atas kedatangannya. Bukan soal kecantikannya saja, sebab cantik itu relatif.

Namun, getaran sebuah rasa adalah hal yang cukup penting untuk sebuah kekaguman.

Kekaguman itu, nantinya dapat beranjak pada kisah menyukai, mencintai, dan menemani untuk menua bersama.

Namun, proses kedepannya, tergantung pada kesepakatan, komitmen, bahkan bisa saja hanya berhenti pada nuansa pertemanan.

Saya teringat Zainuddin, di film 'Tenggelamnya Kapal van der Wijck'. Saat pertama kali, Zainuddin melihat Hayati. Gadis yang membuat hatinya bergetar. Perasaan seperti itulah yang kemudian timbul ini.

Hanya saja, saya tak ingin punya akhir kisah seperti keduanya. Saat mereka bertemu, terpisah, bertemu, dan terpisah lagi.

Saya merasa ingin kisah seperti di film Rompis. Saat Roman sering memberikan puisi untuk Wulan dan keduanya saling berkomitmen untuk bersama. Lengkap dengan kisah-kisah gemas seperti di film tersebut.

Sebab, saya juga menyukai puisi. Bahkan, setiap puisi selalu punya alasan dari mana puisi itu berasal.

Bagi saya, puisi selalu lebih banyak berasal dari rasa kagum. Asal puisi berupa rindu, harapan, kemarahan, dsb. Hanyalah alasan sekunder.

Saat tuhan mempertemukan kita dalam percakapan. Bisakah kita ulangi percakapan itu? Dengan perasaan rindu yang sama. Sebab, aku terlalu berat menanggungnya sendiri.

Lagi dan lagi, perempuan itu mulai banyak hadir di kepala. Masuk melalui pori-pori kulit, lalu disebarkan darah ke seluruh tubuh, tumbuh sebagai ingatan di kepala, dan tenggelam masuk ke dalam hati.

Sampai rindu timbul, harapan bermunculan, dan doa bersahutan.

Begitupun detik jam dinding yang serasa makin kencang bunyinya. Seolah, perempuan ini datang dan menentramkan.

Malam ini, sengaja tak ada secangkir kopi pun yang saya minum. Sebab, saya ingin cepat-cepat terlelap dan semoga ia hadir sebagai mimpi terindah.

Memang, saya tak bisa seperti Seno Gumira Ajidarma. Untuk menghadirkan sepotong senja untuk pacarnya.

Saya hanyalah serpihan puisi yang ditiup angin, tapi selalu ingin agar angin itu datang kedekatnya.

Saya hanyalah seorang pria yang mengharapkan hujan datang di atas rumahnya. Lalu ia kedinginan dan meminta saya untuk melengkapinya dengan kehangatan sebuah percakapan.

Mungkin ia akan merasa bimbang, sebab ada kedatangan yang tak terduga. Namun, ada kuasa yang maha segalanya untuk merestui percakapan kami.

Kali ini saya masih sendiri, bahkan telah lama sendiri, dan belum memiliki dambaan hati.

Namun, saya ingin dan yakin bahwa ia datang sebagai dambaan hati yang dapat menemani. Namun kuasa-Nya lebih utama, maka kuharapkan ridho-Nya.

Rindu ini telah berbunyi dengan semena-mena.
Jejak matamu tertinggal di sepasang mataku. Kemudian, sentuhanmu meresap dan menjelma kehangatan rindu.

Saya berulangkali ingin menyudahi tulisan ini. Hanya saja, terlalu banyak kalimat yang belum terungkap.

Perasaanpun menghadirkan wajahnya dengan seenaknya. Sebab rindu bertumbuh dengan cepat.

Duhhh, ribet juga ternyata. Saat mulai menemukan dambaan hati. Selalu ada yang hadir tentang namanya.

Ada namanya yang bersenda
gurau dengan ingatan ini.

Ia yang terus bercakap dan sesekali menampilkan rindu yang sama indahnya.

Setiap kita mungkin pernah merasa jatuh hati pada dambaan hati. Cara menyikapinya pun pasti berbeda.

Ada yang menemuinya langsung, ada yang lewat pesan singkat, dan berbagai cara lainnya.

Maka, ijinkanlah saya untuk menyampaikan setiap titik rindu ini. Sebagai bagian dari rasa kagum yang meluap.

Kalau besok-besok, saya benar jatuh hati padanya, semoga dilekaskan untuk segera menikmati masa bahagia. Bahkan menua bersama.

Maka, kutuliskan jurnal yang berisi beratnya perasaan ini. Agar ia tahu, bahwa saya punya rindu dan ia adalah bagian dari bahagianya doa yang bersahutan ini.


Abdul Hakim
Abdul Hakim Seorang pembelajar politik lingkungan yang juga menyukai fiksi, puisi, dan kopi.

Tidak ada komentar untuk "Tentang Seorang Perempuan"